4 Prinsip-Prinsip Dasar Penelitian Sejarah Lisan

Salah satu hal paling penting dalam penulisan sejarah lisan yaitu informasi-informasi yang belum pernah ditemukan sebelumnya. Banyak pembicaraan yang tidak terekam dalam sumber tertulis. Perkembangan teknologi yang semakin canggih memberikan dukungan terhadap metode penulisan sejarah lisan contohnya seperti smartphone saat ini.

Jika pembicaraan telepon kebijakan pemerintah tercatat dalam arsip resmi dan bisa terekam, tentu akan menjadi sumber lisan yang sangat berharga. Berawal dari penemuan teknologi (phonograph) hingga tape recorder yang memulai aktivitas penulisan sejarah lisan karena dengan tape recorder kita bisa menyimpan data dan semakin mudah digunakan untuk sumber lisan

prinsip penelitian sejarah lisan

 

Prinsip Dasar Penelitian Sejarah Islam

Berikut ini 4 prinsip-prinsip dasar penelitian sejarah lisan materi sejarah kelas 1 (x) SMA dan MA sebagai berikut.

  1. Perencanaan wawancara

prinsip penelitian sejarah lisan

Perencanaan yang baik akan menghasilkan pengumpulan sumber lisan yang sangat baik. Untuk itulah perencanaan harus disiapkan dan betul-betul diperhatikan. Adapun awal dan pertama yang bisa dilakukan adalah menetapkan orang yang akan kita wawancarai. Sebelum melakukan wawancara sebaiknya kita mengetahui dan mempelajari latar belakang informan tersebut.

Tidak hanya itu sebagai pewancara kita juga harus menguasai materi. Membaca literatur merupakan hal yang sangat penting dilakukan sebelum melakukan wawancara. Langkah kedua kita harus menghubungi informan untuk konfirmasi perjanjian waktu wawancara barus setelah itu bisa dilakukan wawancara langsung. Langkah ketiga yaitu menentukan serta menetapkan pertanyaan.

Alangkah baiknya daftar pertanyaan yang dibuat tidak menghendaki jawaban berupa “ya” atau “tidak”. Jadi, yang ditanya hendaknya “Mengapa?”, “Bagaimana?”,”Di mana?”. Jenis pertanyaan ini untuk menghindari jawaban “ya, atau “tidak”. Jawaban “ya”, atau “tidak” merupakan jawaban yang kuran informatif, maka dari itu kita tidak akan mendapatkan sumber atau informasi yang banyak. Langkah terakhir yaitu prepare atau menyiapkan alat perekam atau tape recorder. Jangan sampai alat perekam tidak berfungsi saat digunakan.

  1. Pelaksanaan wawancara

pelaksanaan wawancara

Situasi kondusif harus diciptakan oleh pewancara agar suasana lebih tenang dan lancar. Tujuan utama yang kita cari adalah kisah pengalaman dari informan, jadi bukanlah dialog yang kita lakukan karena didalam dialog biasanya terjadi interpretasi fakta. Jangan sampai menggurui dan banyak bicara, berikan waktu yang banyak untuk informan bicara untuk mendapatkan informasi yang lengkap. Saat kita sudah menggunakan tape recorder usahakan suara informan lebih banyak terekam jangan terlalu banyak bicara sebagai pewancara. Semakin banyak informasi yang banyak terekam otomatis kita bisa mendapatkan fakta sejarah yang cukup banyak.

  1. Orang yang diwawancarai

orang yang diwawancarai

Pemilihan tokoh atau informan juga sangat penting. Hal utama yang harus dipenuhi yaitu informan harus menyaksikan langsung peristiwa yang kita teliti. Hal ini perlu dilakukan agar informasi yang diberikan lebih akurat. Banyaknya informan yang mau diwawancarai tergantung kebutuhan informasi yang kita perlukan baik individu maupun kelompok. Misalnya jika kita membutuhkan informasi profil 1 biasanya hanya 1 orang, jika yang kita tulis peristiwa bisanya melibatkan orang banyak.

  1. Materi wawancara

materi wawancara

Langkah pertama yang harus dilakukan untuk mendapatkan materi wawancara adalah menentukan tema sesuai penelitian kita. Tema penelitian menjadi pegangan utama dalam menetapkan materi yang akan kita tanyakan menjadi informan. Setelah tema ditentukan baru kita mencari informan yang sesuai dengan tema penelitian kita untuk wawancara.

 

Klik (X) untuk menutup
Dukung kami dengan ngelike fanspage ×