Pengertian Kitab dan Suhuf beserta Perbedaannya

Halo sobat kali ini kita akan membahas mengenai Pengertian Kitab dan Suhuf. Sebagai seorang muslim yang beragama islam, tentu saja kita mempunyai satu kitab suci yaitu Al-Qur’an. Tapi tahukan kamu bahwa sebelum adanya al-qur’an, ternyata ada kitab-kitab sebelumnya yang diturunkan kepada Nabi Musa a.s dan Nabi Ibrahim a.s yang disebut dengan suhuf. Lalu apa sih perbedaan dan pengertian dari kitab dan suhuf tersebut? Silahkan simak materi nya dibawah ini.

pengertian kitab dan suhuf beserta perbedaanya
Pengertian Kitab
Kitab adalah wahyu Allah Swt. yang disampaikan kepada para Rasul-Nya yang sudah berbentuk buku/kitab.
Pengertian Suhuf
Suhuf adalah wahyu Allah Swt. yang disampaikan kepada para Rasul-Nya, tetapi masih dalam bentuk “lebaran-lembaran” terpisah.
Perbedaan Kitab dan Suhuf
Dari pengertian kitab dan suhuf diatas dapat kita simpulkan bahwa perbedaan dari kitab dan suhuf adalah sebagai berikut.
  1. Kitab sudah berbentuk buku.kitab, sedangkan suhuf masih berupa lembaran-lembaran yang terpisah.
  2. Isi suhuf sangat sederhana (simpel), sedangkan isi kitab lebih lengkap jika dibandingkan dengan isi suhuf (lebih terperinci).
Untuk membuktikan bahwa suhuf itu memang telah ada bahkan sebelum adanya kitab suci al-qur’an, kalian dapat melihat Q.S. Al-A’la ayat 19 yang artinya: “Sesungguhnya ini terdapat dalam kitab-kitab yang terdahulu, (yaitu) suhuf-suhuf (kitab-kitab) yang diturunkan kepada Ibrahim dan Musa”.

Manfaat Ihsan dalam Kehidupan Sehari-hari (Berbuat Baik)

Halo sobat kali ini admin akan memberikan materi tentang manfaat ihsan dalam kehidupan sehari-hari bagi manusia. Untuk mendapatkan hikmah dan manfaat dari ihsan tentu saja kita harus terlebih dahulu ihsan terhadap Allah dan juga semua mahluk-Nya. Tapi apa kalian sudah tau apa yang dimaksud dengan ihsan itu?

Kata Ihsan menurut bahasa berasal dari kata kerja (fi’il) yaitu hasunayahsunuhasanan yang artinya baik, kemudia mendapat hamzah di depannya menjadi ahsanayuhsinuihsanan yang artinya memperbaiki atau berbuat baik.

Jadi secara garis besar ihsan adalah suatu perbuatan baik yang dilakukan kita kepada Allah dan juga mahluk-Nya. Jadi untuk mendapatkan manfaat dari ihsan tentu saja kita harus berbuat baik terlebih dahulu terhadap orang lain.

manfaat ihsan dalam kehidupan sehari-hari

Contoh dari berbuat ihsan atau berbuat baik dalam kehidupan sehari-hari adalah seperti menolong tetangga yang sedang terkena musibah, memberi makan hewan yang kelaparan, dan juga merawat alam sekitar. Bahkan jika kita telah melakukan ibadah seperti shalat, zikir, puasa dan sebagainya, maka itu sama saja seperti kita telah berbuat baik (ihsan) kepada Allah.

Sebenarnya semua yang kita perbuat itu pasti akan mendapatkan balasannya, baik itu perbuatan baik dan juga perbuatan buruk, mau dibalas di dunia maupun di akhirat. Baiklah tanpa panjang lebar lagi admin materikelas akan jelaskan manfaat dari ihsan dalam kehidupan sehari-hari.

Manfaat Ihsan dalam Kehidupan Sehari-hari

1. Manfaat yang paling utama dari berbuat baik (ihsan) adalah mendapatkan pahala dan kasih sayang dari Allah Swt., karena dengan mendapatkan pahala dan kasih sayang-Nya kita akan bisa mendapatkan surga-Nya yang kekal dan abadi.

2. Berbuat baiklah kepada kedua orang tua dan ikuti semua apa yang diperintahkannya jika itu memang bukan hal yang negatif, karena dengan begitu mungkin orang tua akan lebih menyayangi diri kita dan jika orang tua mampu maka apa yang diingingkan oleh kita akan berusaha untuk mereka dapatkan. Tapi satu manfaat yang paling penting dari kedua orang tua adalah do’a yang mujarab.

3. Manfaat ihsan dalam kehidupan sehari-hari yang ketiga akan kita dapatkan setelah kita berbuat baik terhadap kerabat, teman sejawat, ataupun tetangga. Karena jika kita berbuat baik kepada mereka maka mereka pun akan berbuat hal yang sama dari mereka yaitu berupa perbuatan baik pula.

4. Perbuatan ihsan yang sering kita lakukan dalam kehidupan sehari-hari juga adalah memberi makan hewan seperti kucing, kambing, ataupun sebagainya. Manfaat yang kita dapatkan dari ihsan terhadap hewan adalah kita akan mendapatkan manfaatnya seperti misalnya jika berbuat baik seperti memelihara ayam dengan baik dan memberi makan ayam tersebut, maka ayam tersebut bisa bertelur adan telur tersebut bisa kita ambil.

5. Selain berbuat ihsan terhadap hewan, perbuatan ihsan yang juga sering dan dapat kita lakukan dalam kehidupan sehari-hari adalah dengan merawat alam sekitar. Contohnya saja jika kita menanam dan merawat pohon rambutan dengan baik, maka manfaat yang akan kita dapatkan adalah buahnya yang dapat kita petik dan kita makan.

Hikmah dan Manfaat Ihsan (Berbuat Baik)

Pada kesempatan ini kita akan membahas Hikmah dan Manfaat Ihsan. Arti dari ihsan itu sendiri adalah berbuat baik, melakukan suatu hal yang dapat bermanfaat baik orang lain. Jadi yang akan dijelaskan pada artikek ini adalah apa hikmah dan manfaat berbuat baik, karena setiap perbuatan baik ataupun buruk pasti ada dampaknya baik itu berupa manfaat dan hikmah ataupun mudharat.

Jika seseorang berbuat baik (ihsan), sebenarnya mereka berbuat baik untuk dirimu sendiri karena setiap kebaikan akan berbalas kebaikan, itu adalah janji Allah Swt. dalam Al-Qur’an.

hikmah dan manfaat ihsan (berbuat baik)

Berbuat ihsan adalah tuntutan kehidupan kolektif karena tidak ada manusia yang dapat hidup sendiri. Berbuat baik (ihsan) kepada siapa pun akan menjadi stimulus terjadinya balasan dari kebaikan yang dilakukan. Demikianlah Allah Swt. membuat sunah (aturan) bagi alam ini, ada jasa dan ada balas. Semua manusia diberi nurani untuk berterima kasih dan keinginan untuk membalas budi baik.

Sikap perilaku ihsan mencakup semua perbuatan baik kepada Allah Swt. dan kepada sesama mahluk ciptaan-Nya.

Secara ringkas, perilaku ihsan antara lain sebagai berikut.

  1. Melakukan ibadah ritual (salat, zikir, dan sebagainya) dengan penuh kekhusyukan dan keikhlasan;
  2. Birrul walidain (berbuat baik kepada kedua orangtua), dengan mengikuti semua keinginannya jika memungkinkan, dengan syarat tidak bertentangan dengan aturan Allah Swt.;
  3. Menjalin hubungan baik dengan kerabat;
  4. Menyantuni anak yatim dan fakir miskin;
  5. Berbuat baik kepada tetangga;
  6. Berbuat baik kepada teman sejawat;
  7. Berbuat baik kepada tamu dengan memberikan jamuan dan penginapan sebatas kemampuan;
  8. Berbuat baik kepada karyawan/pembantu dengan membayarkan upah sesuai perjanjian;
  9. Membalas semua kebaikan dengan yang lebih baik;
  10. Membalas kejahatan dengan kebaikan, bukan dengan kejahatan serupa;
  11. Berlaku baik kepada binatang, dengan memelihara atau memperlakukannya dengan baik. Jika menyembelih ataupun membunuh, lakukan dengan adab yang baik dan tidak ada unsur penganiayaan;
  12. Menjaga kelestarian lingkungan, baik daratan maupun lautan dan tidak melakukan tindakan yang merusak.
Dari kesimpulan yang kita dapat, hikmah dan manfaat ihsan (berbuat baik) adalah kita akan mendapatkan balasan kebaikan juga. Contohnya saja ketika kita telah berbuat baik kepada tetangga dan menolongnya, maka ketika kita berada dalam keadaan susah maka sudah pasti tetangga kita itu pun akan turut membantu kita.
Apalagi ketika kita sudah berbuat ihsan kepada Allah Swt, seperti melaksanakan ibadah shalat, zikir, puasa, dan sebagainya dengan penuh kekhuyuan dan juga ikhlas maka sudah dipastikan balasannya adalah surga Allah. Dan itu adalah hikmah dan manfaat yang paling besar dari berbuat ihsan.

Ruang Lingkup Ihsan (Berbuat Baik)

Halo sobat, kali ini admin akan membahas mengenai Ruang Lingkup Ihsan. Maksud dari ihsan disini artinya adalah berbuat baik. Jadi adapun maksud dari ruang lingkup ihsan adalah kepada apa saja seharusnya kita melakukan perbuatan baik. Secara garis besar ruang lingkup ihsan terbagi menjadi 2, yaitu Ihsan kepada Allah Swt. dan Ihsan kepada sesama mahluk ciptaan Allah Swt. Untuk lebih jelasnya silahkan simak materi agama dibawah.

Ihsan kepada Allah Swt.

Ihsan kepada Allah yaitu berlaku ihsan dalam menyembah atau beribadah kepada Allah Swt., baik dalam bentuk ibadah khusus yang disebut ibadah mahdah (murni, ritual) maupun ibadah umum yang disebut ibadah gairu mahdah (ibadah sosial).

Ibadah mahdah seperti shalat, puasa, zakat, dan haji. Adapun ibadah gairu mahdah seperti belajar-mengajar, berdagang, makan, tidur, dan semua perbuatan manusia yang tidak bertentangan dengan aturan agama.

Berdasarkan salahsatu hadis tentang ihsan, ihsan kepada Allah mengandung dua tingkatan, berikut merupakan 2 Tingkatan Ihsan kepada Allah Swt.

1. Beribadah kepada Allah Swt. seakan-akan melihat-Nya.
Keadaan ini merupakan tingkatan ihsan yang paling tinggi karena dia berangkat dari sikap membutuhkan, harapan, dan kerinduan. Dia menuju dan berupaya mendekatkan diri kepada-Nya.

2. Beribadah dengan penuh keyakinan bahwa Allah Swt. melihatnya.
Kondisi ini lebih rendah tingkatannya daripada tingkatan yang pertama karena sikap ihsannya didorong dari rasa diawasi dan takut akan hukuman.

Kedua jenis ihsan inilah yang akan mengantarkan pelakunya kepada puncak keihklasan dalam beribadah kepada Allah Swt., jauh dari sifat riya.

Ihsan kepada Mahluk Ciptaan Allah Swt.

Selain kita harus berbuat baik (ihsan) kepada Allah, kita juga harus berbuat ihsan terhadap semua mahluk ciptaannya. Berbuat ihsan kepada sesama mahluk Allah meliputi seluruh alam raya Ciptaan-Nya antara lain sebagai berikut.

1. Ihsan kepada Kedua Orang Tua

Berbuat baik kepada kedua orang tua ialah dengan cara mengasihi, memelihara, dan menjaga mereka dengan sepenuh hati serta memnuhi semua keinginan mereka selama tidak bertentangan dengan aturan Allah Swt. Mereka telah berkorban untuk kepentingan anak mereka sewaktu masih kecil dengan perhatian penuh dan belas kasihan. Mereka mendidik dan mengurus semua keperluan anak-anak ketika masih lemah. Selain itu, orang tua memberikan kasih sayang yang tidak ada tandingannya.
ruang lingkup ihsan (berbuat baik)

Firman Allah Swt. dalam Surah Al-Isra’, 17:23-24 yang artinya: “Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada ibu bapak. Jika salah seorang diantara keduanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan ‘ah’ dan janganlah engkau membentak keduanya, dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang baik. Dan rendahkan dirimu terhadap keduanya denga kasih sayang dan ucapkanlah, ‘Wahai Tuhanku, sayangilah keduanya sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku pada waktu kecil’.”.
Berbuat ihsan kepada kedua orang tua juga dipertagas sabda Rasulullah saw. riwayat Tirmidzi yang artinya: Keridaan Allah berada pada keridaan orang tua, dan kemurkaan Allah berada pada kemurkaan orang tua,

2. Ihsan kepada Kerabat Karib

Berbuat baik kepada kerabat karib dengan cara menjalin silaturahmi, bahkan Allah menyamakan seseorang yang memutuskan hubungan silaturahmi dengan perusak di muka bumi. Sebagaimana firman Allah yang artinya: “Maka apakah kiranya jika kamu berkuasa, kamu akan berbuat kerusakan di bumi dan memutuskanhubungan kekeluargaan?. (Q.S. Muhammad, 47:22).
Silaturahmi merupakan kunci mendapatkan keridaan Allah Swt. sebab paling utama terputusnya hubungan seorang hamba dengan Tuhannya adalah karena terputusnya hubungan silaturahmi.

Dalam hadits qudsi, Allah Swt. berfirman yang artinya: Aku adalah Allah, aku adalah ahman, dan Aku telah menciptakan alam rahim yang kuberi nama bagian dari nama-Ku. Maka, barang siapa yang menyambungnya, akan Kusambungkan pula baginya dan barang siapa yang memutuskannya, akan Kuputuskan hubunganku dengannya. (H.R. Tirmidzi).

3. Ihsan kepada Anak Yatim

Berbuat baik kepada anak yatim ialah dengan cara mendidiknya dan memelihara hak-haknya. Banyak ayat dan hadis menganjurkan berbuat baik kepada anak yatim, di antaranya sabda Rasulullah saw. yang artinya: Aku dan orang yang memelihara anak yatim di surga kelak akan seperti ini (seraya menunjukkan jari telunjuk jari tengahnya). (HR. Bukhari, Abu Daud, dan Timidzi).

4. Ihsan kepada Fakir Miskin

Berbuat baik kepada fakir miskin ialah dengan memberikan bantuan kepada mereka terutama pada saat mereka mendapat kesulitan. Rasulullah saw. bersabda. “Orang-orang yang menolong janda dan orang miskin, seperti orang yang berjuang di jalan Allah.”,(H.R. Muslim dari Abu Hurairah).

5. Ihsan kepada Tetangga

Berbuat baik kepada tetangga meliputi tetangga dekat, baik kerabat maupun tetangga yang berada di dekat rumah, serta tetangga jauh baik jauh karena nasab maupun yang berada jauh dari rumah.

Teman sejawat adalah teman yang berkumpul dengan kita atas dasar pekerjaan, pertemanan, teman sekolah atau teman kampus, perjalanan, ma’had, dan sebagainya. Mereka semua masuk ke dalam kategori tetangga.

Seorang tetangga kafir mempunyai hak sebagai tetangga saja, tetapi tetangga muslim mempunyai dua hak yaitu sebagai tetangga dan sebagai muslim. Adapun tetangga muslim dan kerabat mempunyai tiga hak yaitu sebagai tetangga, sebagai muslim, dan sebagai kerabat.

Rasulullah saw. bersabda, “Demi Allah, tidak beriman, demi Allah, tidak beriman.” Para sahabat bertanya, “Siapakah yang tidak beriman , ya Rasulullah?” Beliau menjawab, “Seseorang yang tidak aman tetangganya dari gangguannya>” (H.R. Al-Syaikhani).

Pada hadis yang lain, Rasulullah bersabda, “Tidak beriman kepadaku barang siapa yang kenyang pada suatu malam, sedangkan tetangganya kelaparan, padahal ia mengetahuinya.” (H.R. At-Tabrani).

6. Ihsan kepada Tamu

Berbuat baik kepada tamu, secara umum adalah dengan menghormati dan menjamunya. Rasulullah Saw. bersabda, “Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah memuliakan tamunya.” (H.R. Jama’ah, kecuali Nasa’i).

7. Ihsan kepada Karyawan/Pekerja

Cara berbuat baik kepada karyawan atau orang-orang yang terikat perjanjian kerja dengan kita, termasuk pembantu, tukang, dan sebagainya, adalah membayar upah mereka sebelum keringat mereka kering (segera) dan tidak membebani mereka dengan sesuatu yang mereka tidak sanggup melakukannya. Kita juga harus mengormati dan menghargai profesi mereka.

8. Ihsan kepada Sesama Manusia

Berbuat baik kepada sesama manusia dapat kita lakukan dengan cara melembutkan ucapan, saling menghargai satu sama lain dalam pergaulan, serta menyuruh kepada yang makruf dan mencegah kemungkaran. Menunjukkan jalan jika ia tersesat, mengajari mereka yang bodoh, mengakui hak-hak mereka, serta tidak mengganggu mereka dengan tidak melakukan hal-hal yang dapat mengusik dan melukai mereka. Sebagaimana sabda Rasulullah yang artinya: Barang siapa beriman kepada Allah dan hari kiamat, hendaklah ia berkata yang baik atau diam. (H.R. Bukhari dan Muslim).

9. Ihsan kepada Binatang

Berbuat baik terhadap binatang adalah dengan memberinya makan jika ia lapar, mengobatinya jika ia sakit, tidak membebaninya diluar kemampuannya, tidak menyiksanya jika ia bekerja, dan mengistirahatkannya jika ia lelah.

Pada saat menyembelihnya dengan cara yang baik, tidak menyiksanya, dan menggunakan pisau yang tajam, Sebagaiman sabda Rasulullah saw. yang artinya: Maka apabila kamu membunuh hendaklah dengan cara yang baik, dan kamu menyembelih maka sembelihlah denga cara yang baik dan hendaklah menajamkan pisaunya dan menyenangkan hewan sembelihnya. (H.R. Muslim).

10. Ihsan kepada Alam Sekitar
Berbuat baik kepada alam sekitar dapat kita lakukan dengan cara memanfaatkannya secara bertanggung jawab, menjaga kelestariannya, dan tidak merusaknya karena pada dasarnya alam raya beserta isinya diciptakan untuk kepentingan manusia. Sebagaiman firman Allah Swt. yang artinya: Dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baikkepadamu dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang berbuat kerusakan.

Pengertian Kiamat Sugra dan Kiamat Kubra

Hari ini kita akan menjelaskan Pengertian Kiamat Sugra dan Kiamat Kubra beserta ayat al-qur’an berserta artinya yang menjelaskan tentang hal tersebut. Sebagai muslim, kita wajib percaya adanya hari kiamat. Jika ditinjau dari proses kejadiannya, hari kiamat itu dibedakan menjadi dua, yaitu kiamat sugra (kiamat besar) dan kiamat kubra (kiamat kecil).

Kiamat Sugra

Sugra berarti kecil. Kiamat sugra adalah berakhirnya kehidupan sebagian mahluk di dunia ini baik secara individu maupun kelompok. Semua mahluk hidup pasti akan mengalami kematian, tidak ada mahluk yang abadi. Semuanya akan musnah dan binasa.Peristiwa kematian atau kehancuran mahluk hidup itulah yang dinamakan kiamat sugra.Artinya, kiamat kecil yaitu kiamat bagi mahluk yang mati itu.
Contoh kiamat sugra adalah sebagai berikut.
  1. Kematian seseorang.
  2. Bencana alam.
  3. Gempa bumi.
  4. Sakit.
  5. Kecelakaan.
Hal itu semua dijelaskan dalam al-qur’an surah Ali ‘Imran ayat 185 sebagai berikut.
q.s. ali 'imran ayat 185
q.s. ali ‘imran ayat 185
Artinya: Setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Dan hanya pada hari kiamat sajalah diberikan dengan sempurna balasanmu. Barang siapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, sungguh dia memperoleh kemenangan. Kehidupan dunia hanyalah kesenangan yang memperdaya. (Q.S. Ali ‘Imran, 3: 185)

Kiamat Kubra

Kubra berarti besar. Kiamat kubra adalah berakhirnya seluruh kehidupan makhluk yang ada di dunia ini secara serempak. Siapa pun tidak dapat memprediksi dan mengetahui terjadinya hari kiamat meskipun menggunakan ilmu teknologi secanggih apapun. Para rasul dan malaikat pun tidak ada yang diberi tahu secara pasti tibanya hari kiamat, apalagi manusia biasa. Kiamat itu merupakan rahasia Allah Swt. Proses kejadian hari kiamat dijelaskan Allah Swt. dalam surah Al-Haqqah ayat 13-18 berikut.
Q.S. Al-Haqqah ayat 13-18
Q.S. Al-Haqqah ayat 13-18
Artinya: Maka apabila sangkakala ditiup sekali tiup, dan diangkatlah bumi dan gunung-gunung, lalu dibenturkan keduanya sekali benturan. Maka pada hari itu terjadilah hari kiamat, dan terbelahlah langit, karena pada hari itu langit menjadi rapuh. Dan para malaikat berada diberbagai penjuru langit. Pada hari itu delapan malaikat menjunjung ‘Arsy (singgasana) Tuhanmu di atas (kepala) mereka. Pada hari itu kamu dihadapkan (kepada Tuhanmu), tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi (bagi Allah). (Q.S. Al-Haqqah, 69: 13-18)

Materi Berpikir Kritis dan Bersikap Demokratis

Halo sobat, kali ini saya akan membagikan materi agama kelas XII yaitu berpikir kritis dan bersikap demokratis. Adapun yang akan saya sampaikan di materi kali ini yaitu makna berpikir kritis, makna bersikap demokratis, dan juga ayat-ayat al-quran tentang berpikir kritis dan bersikap demokratis.

Berpikir adalah fungsi akal. Dengan berpikir, manusia memanfaatkan akalnya untuk memahami hakikat segala sesuatu. Hakikat segala sesuatu adalah kebenaran, dan kebenaran yang sejati adalah Allah Swt. Dengan berpikir, manusia mengenal Allah dan mendekatkan diri kepada-Nya. Maka, berpikir adalah awal perjalanan ibadah yang tanpa-Nya ibadah menjadi tak bernilai.

Jika berkaitan dengan ibadah suadah ada ketentuan yang terperinci dari Allah Swt. Adapun dalam kehidupan ini banyak sekali masalah yang kita hadapi selain ibadah. Salah satu cara menyelesaikan masalah tersebut adalah dengan bermusyawarah.

Musyawarah adalah suatu kelaziman fitrah manusia dan termasuk tuntutan stabilitas suatu masyarakat. Musyawarah bukanlah tujuan pada asalnya, melainkan disyariatkan dalam agama islam untuk mewujudkan keadilan di antara manusia dan juga untuk memilih perkara yang paling baik bagi mereka sebagai perwujudan tujuan-tujuan syariat dan hukum-hukumnya.

Sebagai warga negara yang baik, dalam bermusyawarah kita harus mengedepankan kepentingan bersama, jangan hanya mengedepankan kepentingan pribadi. Berikan masukan dengan berpikir secara kritis dan menghormati perndapat orang lain.

1. Makna Berpikir Kritis

Berpikir kritis, sifat ini adalah sikap dan perilaku yang berdasarkan data dan fakta yang valid (sah) serta argumen yang akurat. Warga negara yang demokrat hendaknya selalu bersikap kritis, baik terhadap kenyataan empiris (realitas sosial,budaya, dan politik) maupun terhadap kenyataan supraempiris (agama, mitologi, dan kepercayaan). Sikap kritis juga harus ditujukan pada diri sendiri. Sikap kritis pada diri sendiri itu tentu disertai sikap kritis terhadap pendapat yang berbeda. Tentu saja sikap kritis ini harus didukung oleh sikap yang bertanggung jawab terhadap apa yang drkritisi.

makna berpikir kritis
berpikir kritis

Sikap kritis dalam suasana demokrasi juga perlu didukung dengan kemampuan untuk menyelesaikan masalah secara damai. Masalah yang berasal dari perbedaan pendapat dapat berujung konflik, untuk itu perlu ditekankan penyelesaian masalah dilakukan dengan damai bukan kekerasan.

2. Makna Bersikap Demokratis

Pengertian demokrasi dapat dilihat dari tinjauan (etimologis) dan istilah (terminologis). Secara etimologis, demokrasi terdiri dari dua kata yang berasal dari bahasa Yunani yaitu demos yang berarti rakyat atau penduduk suatu tempat dan cratein atau cratos yang berarti kekuasaan atau kedaulatan. Adapun secara terminologis, demokrasi adalah bentuk mekanisme sistem pemerintahan suatu negara sebagai upaya mewujudkan kedaulatan rakyat (kekuasaan warga negara) atas negara untuk dijalankan oleh pemerintahan negara tersebut.

makna bersikap demokratis
makna bersikap demokratis


Dengan demikian, makna demokrasi sebagai dasar hidup bermasyarakat dan benegara mengandung pengertian bahwa rakyatlah yang memberikan ketentuan dalam masalah-masalah mengenai kehidupannya, termasuk dalam hal kebijakan negara karena kebijakan tersebut akan menentukan kehidupan rakyat. Maka, negara yang menganut sistem demokrasi adalah negara yang diselenggarakan berdasarkan kehendak dan kemauan rakyat. Dari segi organisasi, demokarasi berarti pengorganisasiannegara yang dilakukan rakyat sendiri atau atas persetujuannrakyat karena kedaulatan berada di tangan rakyat.

Dalam agama islam, sejatinya tidak dikenal istilah demokrasi. Orang-orang islam hanya mengenal kebebasan (al-hurriyah) yang merupakan pilar utama demokrasi yang diwarisi semenjak zaman nabi Muhammad saw., termasuk didalamnya kebebasan memilih pemimpin, mengelola negara secara bersama-sama (syura), kebebasan mengkritisi penguasa, dan kebebasan berpendapat.

Baca juga : Materi Agama Kelas XII semester 1 kurtilas lengkap.

Basis empiriknya, demokrasi dan agama memiliki perbedaan yang mendasar. Demokrasi berasal dari pergumulan pemikiran filosofis manusia, sedangkan agama berasal dari wahyu. Meskipun keduanya dikatakan berbeda dalam basis empirik, dalam kaitan berbasis dialektis agama dapat memberikan dukungan positif terhadap demokrasi dan demokrasi sendiri dapat memberikan peluang bagi proses pendewasaan kehidupan bernegara.

Dukungan positif yang diberikan bukan berarti mutlak bahwa semua menurut demokrasi adalah benar. Islam juga mencerminkan demokrasi, tetapi islam tidak mengenal paham demokrasi yang memberikan kekuasaan besar kepada rakyat untuk menetapkan segala hal. Piagam Madinah yang dimunculkan oleh Nabi Muhammad saw. dan umat islam di Madinah merupakan konsep pertama di dalam dunia islam mengenai demokrasi.

Makna demokrasi adalah dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat, kemudian melindungi semua kepentingan rakyat. Jadi, islam sebenarnya identik dengan demokrasi, tetapi demokrasi dalam islam memiliki perbedaan-perbedaan dengan demokrasi yang dicetuskan.

3. Ayat-ayat Alquran tentang Berpikir Kritis dan Bersikap Demokratis

1. Surah Ali ‘Imran Ayat 190-191

إِنَّ فِى خَلْقِ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ وَٱخْتِلَٰفِ ٱلَّيْلِ وَٱلنَّهَارِ لَءَايَٰتٍۢ لِّأُو۟لِى ٱلْأَلْبَٰبِ ﴿ە۱۹﴾ ٱلَّذِينَ يَذْكُرُونَ ٱللَّهَ قِيَٰمًۭا وَقُعُودًۭا وَعَلَىٰ جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِى خَلْقِ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَٰذَا بَٰطِلًۭا سُبْحَٰنَكَ فَقِنَا عَذَابَ ٱلنَّارِ ﴿۱۹۱


Artinya: “Sesungguhnya, dalam penciptaan langit dan bumi, dan pergantian malam dan siang, terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk, atau dalam keadaan berbaring, dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), “Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia-sia; Mahasuci Engkau, lindungilah kami dari azab neraka.” (QS. Ali-‘Imran: 190-191).

Dalam ayat 190 menjelaskan bahwa sesungguhnya dalam tatanan langit dan bumi serta keindahan perkiraan dan keajaiban ciptaan-Nya juga dalam silih bergantinya siang dan malam secara teratur sepanjang tahun yang dapat kita rasakan langsung pengaruhnya pada tubuh kita dan cara berpikir kita karena pengaruh panas matahari, dinginnya malam, dan pengaruhnya yang ada pada dunia flora dan fauna merupakan tanda bukti yang menunjukan keesaan Allah Awt., kesempurnaan pengetahuan dan kekuasaannya.

2. Surah Ali ‘Imran Ayat 159

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ اللهِ لِنْتَ لَهُمْ ۖ وَلَوْ كُنْتَ فَظَّاغَلِظَ اْلقَلْبِ لاٰنْفَضُّوْا مِنْ حَوِلِكَۖ  فَعْفُ عَنْهُمْ وَآسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِيْ اْلأَمْرِ ۖ فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللهِۚ إِنَّ اللهَ يُحِبُّ اْلمُتَوَكِّلِيْنَ

Artinya: “Maka disebabkan rahmat dari Allah swt-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka, sekiranya kamu bersikap keras dan berhati kasar tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkan ampunan bagi mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu, dan apabila kamu telah membulatkan tekad maka berdakwahlah kepada Allah swt, sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya”. (QS. Ali Imran: 159).

Surah Ali ‘Imran ayat 159 membahas tentang tata cara melakukan musyawarah. Ayat ini diturunkan sebagai teguran terhadap sikap para sahabat Rasulullah Saw. yang telah menyepakati keputusan musyawarah dalam menerapkan strategi Perang Uhud, tetapi mereka melanggar kesepakatan tersebut. Oleh karena sikap melanggar dari keputusan musyawarah dalam Perang Uhud, kaum muslimin menjadi sulit mengalahkan musuh.

NIKAH : Pengertian, Hukum, Rukun, dan Syarat Nikah

Oke sobat, jarang banget nih saya update materi agama. Tapi kali ini saya akan menulis materi agama yaitu pernikahan. Adapun materi yang akan kita bahas mengenai penikahan adalah pengertian nikah, hukum nikah, rukun nikah, dan juga syarat nikah. Baiklah langsung saja mari kita simak materi berikut.

Pengertian, Hukum, Rukun, dan Syarat Nikah dalam islam

Pengertian Nikah

Nikah menurut bahasa berarti menghimpun atau mengumpulkan. Pengertian nikah menurut istilah adalah suatu ikatan lahir batin antara seorang laki-laki dan perempuan yang bukan muhrim sebagai suami istri dengan tujuan membina suatu rumah tangga yang bahagia berdasarkan tuntunan Allah Swt. 
Pengertian pernikahan menurut Undang-Undang Nomor 1 Tahun1974 tentang Perkawinan, perkawinan yaitu ikatan lahir batin antara seorang pria dan wanita sebagai suami istri dengan tujuan membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa.

Hukum Nikah

Hukum menikah dalam islam adalah sunah muakad, tetapi bisa berubah sesuai dengan kondisi dan niat seseorang. Jika seseorang menikah dengan diniatkan sebagai usaha untuk menjauhi dari perzinahan, hukumnya sunah. Akan tetapi, jika diniatkan untuk sesuatu yang buruk, hukumnya menjadi makruh, bahkan haram. 
Salah satu ayal alquran yang berisi perintah menikah yaitu sebagai berikut yang artinya : “Dan diantara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari jenismu sendiri, agar kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan Dia menjadikan di antaramu rasa kasih dan sayang. Sungguh, pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berpikir”. (Q.S. Ar-Rum, 30:21)

Rukun Nikah

Rukun nikah merupakan hal-hal yang harus dipenuhi agar pernikahan menjadi sah. Rukun nikah dalam islam itu ada 5, yaitu sebagai berikut.
  1. Ada mempelai yang akan menikah.
  2. Ada wali yang menikahkan.
  3. Ada ijab dan kabul dari wali dan mempelai laki-laki.
  4. Ada dua saksi pernikahan tersebut.
  5. Kerelaan kedua belah pihak atau tanpa paksaan.

Syarat Nikah

Syarat syarat nikah yaitu sebagai berikut.
  1. Calon suami telah balig dan berakal.
  2. Calon istri yang halal dinikahi.
  3. Lafal ijab dan kabul harus bersifat selamanya.

    Ijab artinya mengemukakan atau menyatakan suatu perkataan. Kabul artinya menerima. Jadi, ijab kabul artinya seseorang menyatakan sesuatu kepada lawan bicaranya, kemudian lawan bicaranya menyatakan menerima.

    Dalam pernikahan, yang dimaksud dengan ijab kabul adalah seorang wali atau wakil dari mempelai perempuan mengemukakan kepada calon suami anak perempuannya/perempuan yang dibawah perwaliannya, untuk menikahkannya dengan lelaki yang mengambil perempuan tersebut sebagai istrinya. Lalu lelaki yang bersangkutan menyatakan menerima pernikahannya itu.

    Diriwayatkan dalam sebuah hadis bahwa: Sahl bin Said berkata, seorang perempuan datang kepada Nabi saw. untuk menyerahkan dirinya, dia berkata, “Saya serahkan diriku kepadamu.” Lalu ia berdiri lama sekali (untuk menanti). Kemudian seorang laki-laki berdiri dan berkata, “Wahai Rasulullah kawinkanlah saya dengannya jika engkau tidak berhajat kepadanya.” Lalu Rasulullah saw. bersabda “Aku kawinkan engkau kepadanya dengan mahar yang ada padamu.” (H.R. Bukhari dan Muslim).

    Hadis Sahl tersebut menerangkan bahwa Rasulullah saw. telah mengijabkan seorang perempuan kepada Sahl dengan mahar atau maskawinnya ayat alquran dan Sahl menerimanya.

  4. Dua orang saksi.

    Menurut jumhur ulama, akad nikah minimal dihadiri oleh dua orang saksi. Saksi dalam akad nikah harus memenuhi syarat-syarat berikut.
    -Cakap bertindak secara hukum (balig dan berakal).
    -Minimal dua orang.
    -Laki-laki.
    -Merdeka.
    -Orang yang adil.
    -Muslim.
    -Dapat melihat (menurut ulama mazhab Syafii).

  5. Adanya wali.

    Dari Abu Musa r.a., Nabi saw. bersabda, “Tidaklah salahsatu pernikahan tanpa wali.” (H.R. Abu Dawud dan disahihkan oleh Syaikh al-Albani dalam sahih Sunan Abu Dawud no. 1.836). Wali yang mendapat prioritas pertama di antara sekalain wali-wali yang ada adalah ayah dari pengantin wanita. Kalau tidak ada barulah kakeknya (ayahnya ayah), kemudian saudara lelaki seayah seibu atau seayah, kemudian anak saudara lelaki. Sesudah itu barulah kerabat-kerabat terdekat yang lainnya atau hakim.

    Wali nikah harus memiliki syarat-syarat tertentu. Syarat wali nikah tersebut adalah antara lain sebagai berikut.
    -Laki-laki.
    -Balig dan berakal sehat.
    -Beragama islam.
    -Merdeka.
    -Memiliki hak perwalian.
    -Tidak ada halangan untuk menjadi wali.
    -Adil

Tugas Agama Iman kepada Hari Akhir

Halo sobat, setelah minggu lalu guru agama saya memberikan materi Iman kepada hari akhir dan juga materi Surga dan Neraka . Ternyata pada minggu ini guru saya memberikan tugas agama tentang Iman kepada hari akhir. Kali ini saya akan membagikan soal dari tugas saya tersebut tentu saja lengkap dengan jawaban nya. Tapi mohon maaf sebelumnya jika mungkin jawaban dari saya masih belum atau kurang tepat. Oke berikut soal tugas agama nya dibawah ini.

Soal
1. Cari tanda-tanda kiamat sugra dan kiamat kubra!
2. Apa fungsi iman kepada hari akhir?
3. Tulis dan artikan Q.S. Al-Baqarah :25 dan cari tafsir dari Q.S. Al-Baqarah :25 tersebut!
4. Hafalkan Q.S.Al-Zalzalah ayat 1-2, Al-Qari’ah ayat 4-5, dan Al-Baqarah ayat 25!

Jawaban

1.  a. Tanda-tanda kiamat sugra (kiamat kecil).

  1. Ajaran Islam kurang diperhatikan dan bahkan ditinggalkan oleh kaum muslimin.
  2. Jumlah ulama (ahli agama) yang sesungguhnya semakin sedikit, sebaliknya banyak orang bodoh yang mengaku ulama dan menyesatkan umat muslim.
  3. Perzinahan dilakukan secara terang-terangan dan sudah menjadi suatu kebiasaan di masyarakat luas.
  4. Mabuk mabukan banya dilakukan seolah bukan perbuatan yang diharamkan.
  5. Jumlah wanita lebih banyak dibandingkan dengan pria, dan mereka sudah tidak malu untuk berpakaian setengah telanjang.
  6. Banyak wanita yang berpenampilan seperti pria dan sebaliknya.
  7. Manusia berlomba untuk memperkaya diri dengan cara yang tidak halal.
  8. Para orangtua menjadi budak yang diperilakukan semena-mena oleh anak-anaknya.
  9. Semakin banyak fitnah yang menimpa umat Islam.
  10. Semakin sering terjadi bencana alam, pembunuhan dan peperangan.
  11. Banyaknya perceraian.
  12. Bermewah-mewah dalam membangun masjid sementara jamaahnya sedikit.

b. Tanda-tanda kiamat kubra (kiamat besar)

  1. Waktu berputar semakin cepat, sehingga setahun terasa sebulan, sebulan terasa seminggu.
  2. Matahari terbit dari sebelah barat.
  3. Keluarnya Dajjal, yaitu sosok pembohong yang menutupi kebenaran.
  4. Adanya Ya’juj dan Ma;juj, yaitu segolongan manusia yang memiliki kekuatan besar dan berpikiran sesat.
  5. Turunya Imam Mahdi ke dunia untuk meluruskan syari’at Islam dan mengidupkan sunnah-sunnah Rasulullah SAW.
  6. Turunya Nabi Isa A.S yang akan memperjuangkan kebenaran bersama Imam Mahdi. Dialah yang menumpas Dajjal serta mengajak umat manusia untuk mengesakan Allah dan menyembah-Nya.
  7. Hilangnya Al-Qur’an dari mushaf (lembaran-lembaran) dari hati manusia.

2. Fungsi iman kepada hari akhir

  1. Menentramkan hati terutama bagi orang yang mendapat perlakuan yang kurang adil atau sewenang-wenang.
  2. Di dalam hidup di dunia tidak akan tenggelam dalam kemegahan dan tidak iri terhadap kebahagiaan orang lain.
  3. Menambah kesabaran dalam menghadapi berbagai macam cobaan, karena di akhirat semua orang akan menerima balasan yang seadil-adilnya.
  4. Mendorong kepada setiap orang muslim dalam hidup sehari-hari untuk selalu memperbanyak amal kebajikan dan menjauhi segala perbuatan yang jelek.
  5. Mendorong kepada setiap orang muslim agar suka membelanjakan hartanya kearah kebaikan dan menghindari sifat kikir, bakhil, tamak, dan rakus.

3. Tafsir surat al-baqarah ayat 25

tafsir al baqarah ayat 25
tafsir al baqarah ayat 25


 tafsir ayat :
وَبَشِّرِ “Dan sampaikanlah berita gembira” yaitu wahai Rasul dan siapa pun yang berada dalam posisimu,  ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ “kepada mereka yang beriman” dengan hati mereka, وَعَمِلُواْ ٱلصَّـٰلِحَـٰتِ “dan berbuat baik” dengan anggota tubuh mereka, maka mereka membenarkan keimanan mereka dengan adanya tindakan nyata dari perbuatan-perbuatan baik mereka, dan perbuatan-perbuatan baik disifati dengan kata shalih karena dengan perbuatan-perbuatan itu akan memperbaiki keadaan seorang hamba, memperbaiki perkara agama dan dunianya, dan penghidupan dunia maupun akhiratnya, serta menghilangkan kerusakan dirinya. Yang pada akhirnya ia menjadi golongan orang-orang yang shalih yang baik karena berdekatan dengan ar-Rahman dalam surgaNya, maka berikanlah mereka kabar gembira, أَنَّ لَهُمۡ جَنَّـٰتٍ۬ “bahwa bagi mereka disediakan surga-surga” yaitu kebun-kebun yang meliputi pohon-pohon yang indah, buah-buahan yang menggiurkan, naungan yang sejuk, dahan-dahan dan ranting-ranting pohon yang rimbun. Dengan itu semua, jadilah ia sebagai taman-taman yang dinikmati oleh orang yang masuk ke dalamnya dan dirasakan orang-orang yang tinggal di dalamnya.

تَجۡرِى مِن تَحۡتِهَا ٱلۡأَنۡهَـٰرُ‌ۖ   “yang mengalir sungai-sungi di bawahnya” yaitu sungai-sungai air, susu, madu, dan khamr, di mana mereka mengalirkannya bagaimana pun cara yang mereka kehendaki dan mengalirkannya kemana pun mereka mereka inginkan, dan darinya pohon-pohon itu disiram, hingga tumbuhlah buah-buahan yang bermacam-macam.

ڪُلَّمَا رُزِقُواْ مِنۡہَا مِن ثَمَرَةٍ۬ رِّزۡقً۬ا‌ۙ قَالُواْ هَـٰذَا ٱلَّذِى رُزِقۡنَا مِن قَبۡلُ‌ۖ  “setiap mereka diberi rizki buah-buahan dalam surga-surga itu, mereka mengatakan, ‘Inilah yang pernah diberikan kepada kami dahulu’.” Maksudnya buah-buahan itu sama dari sisi jenis dan sifatnya, semuanya sama rata dalam kelezatan dan keunggulannya, tidak ada buah-buahan yang busuk, dan mereka tidak memiliki waktu yang kosong dari kenikmatan, mereka selalu berada dalam kenikmatan dengan buah-buahannya, dan firmanNya,  وَأُتُواْ بِهِۦ مُتَشَـٰبِهً۬ا‌ۖ Mereka diberi buah-buahan yang serupa”. Dikatakan; yang serupa dalam namanya namun berbeda dalam rasanya. Dikatakan juga; serupa dalam warnanya namun berbeda dalam namanya. Dikatakan lagi;  sebagian serupa dengan sebagiannya lagi dalam keunggulan, kelezatan dan kenikmatannya, dan yang terakhir ini mungkin pendapat yang terbaik.

Kemudian ketika Allah menyebutkan tentang kediaman mereka, makanan mereka dari makanan dan minuman, dan buah-buahan mereka, Dia menyebutkan pula istri-istri mereka, lalu Dia menjelaskan tentang sifat mereka dengan sifat yang paling ideal. Dia meringkasnya dan membahasnya seraya berfirman, وَلَهُمۡ فِيهَآ أَزۡوَٲجٌ۬ مُّطَهَّرَةٌ۬‌ۖ “Dan untuk mereka didalamnya ada istri-istri yang suci” dan Dia tidak mengatakan suci dari satu aib saja, demi mencakup segala macam kesucian, mereka itu suci akhlaknya, suci tubuhnya, suci lisannya, suci penglihatannya, akhlak-akhlak mereka penuh cinta yang disukai oleh suami-suami mereka dengan akhlak yang baik, berhias diri yang paling indah dan bertata-krama; baik lisan maupun perbuatan, juga suci tubuh mereka dari haidh, nifas, mani, air seni, kotoran, lendir hidung, air ludah dan bau yang tidak sedap, dan juga suci penampilan mereka dengan kesempurnaan kecantikan, di mana tidak ada aib sama sekali pada diri mereka, tidak pula buruk rupa. Akan tetapi mereka itu baik-baik lagi cantik-cantik, suci lisan dan pandangan mereka, yang sopan lagi menundukkan pandangan mereka terhadap suami-suami mereka, sopan lisan mereka dalam bertutur kata yang jauh dari perkataan yang buruk.

4. Menghapal surat, untuk menghapal surat sobat bisa membaca sendiri di al qur’an maupun di internet.

Itulah tugas agama kelas XII yang telah saya buat, sobat bisa juga melihat materi materi seputar agama dengan klik disini. Mungkin itu sekian dulu tugas kali ini, selamat mengerjakan.

Gambaran Surga dan Neraka dengan Namanya

Gambaran surga dan neraka. Yah banyak sekali didunia ini yang ingin tau bagaimana surga atau gambaran surga dan neraka. Memang tidak dapat dibayangkan betapa indahnya surga dan pedihnya siksaan api neraka. Kita manusia tidak ada yang pernah melihat indahnya surga ataupun mendengar indahnya surga dengan alat indra kita karena surga hanya dapat dilihat ketika kita sudah meninggal dan tentunya harus mempunyai amal baik di dunia ini.

Surga
Kata surga berasal dari bahasa sansakerta yaitu swarga yang artinya kahiyangan. Dalam al-quran disebut ‘al jannah’ artinya taman yang ditutupi pepohonan dan ‘jannah’ adalah suatu tempat di akhiratyang disediakan untuk orang orang yang beramal shalih atau taqwa. (Q.S. Al-Baqarah : 2).
gambaran surga
gambaran surga
Keindahan harta dan kenikmatan surga tidak dapat dibayangkan dengan keindahan yang ada di dunia sebab surga itu belum pernah dilihat dan belum pernah didengar. Sebagaimana sabda Rosulullah saw. yang artinya :
“Keadaan surga itu belum pernah terlihat oleh mata, belum pernah terdengar oleh telinga dan belum pernah terlintas dalam hati seseorang”.
Yand dimasukkan kedalam surga itu tidak sama tergantung kepada amalnya selama di dunia, karena surga itu terdiri dari beberapa nama dan tingkatan surga yaitu :
Nama dan Tingkatan Surga
  1. Jannatun Na’um artinya surga kenikmatan (Q.S Al-Maidah ayat 65).
  2. Jannatun Parassalam artinya rumah keselamatan (Q.S Yunus ayat 25).
  3. Jannatun Firdaus artinya taman yang hijau rumput-rumputnya (Q.S Al-Kahfi ayat 107-108).
  4. Jannatul Ma’wa artinya tempat kediaman (Q.S An -Najmu ayat 15).
  5. Jannaul A’den artinya tempat diam (Q.S Al-Bayyinah ayat 7-8).
  6. Jannatul Khuldi artinya tempat yang kekal (Q.S Al-Furqon).
  7. Jannatul Darul Qoror artinya negeri tempat menetap (Q.S Al-Ghofir ayat 39).
Setelah diatas kita membahas tentang nama-nama dan tingkatan surga, kali ini kita akan membahas sesuatu tentang neraka. Yang akan kita bahas kali ini gambaran neraka dan juga nama nama nerakan yang terdapat dalam Al-Qur;an yang akan kita bahas sebagai berikut.
Neraka
gambara neraka
gambara neraka

Neraka (an-nar) artinya api, yaitu suatu tempat di akhirat yang disediakan bagi orang orang yang timbangan amalnya lebih berat kepada kejelekan (Q.S Al-Baqarah ayat 39). Sebagaimana nama-nama surga, neraka pun disebut didalam Al-Qur’anul Karim dengan beberapa nama sebagai berikut.

Nama-nama Neraka
  1. Jahannam artinya api yang sangat panas (Q.S An-Naba ayat 21-25).
  2. Al-Jahim artinya api yang sangat panas (Q.S Al-Haqqah ayat 30-32).
  3. Ladha artinya api yang menyala (Q.S Al-Ma’arif ayat 15-18).
  4. Al-Khuthomah artinya api yang menyala-nyala (Q.S Al-Humajah ayat 4-9).
  5. As-Sair artinya api yang menyala (Q.S Al-Mulku ayat 5).
  6. As-Saqor artinya api yang membakar (Q.S Al-Muddatsin ayat 26-30).
  7. Hawiyah artinya dari bagian bawah api neraka (Q.S Al-Qori’ah ayat 8-11)

Pengertian Iman Kepada Hari Akhir

Pengertian iman kepada hari akhir – Hari akhir atau hari kiamat adalah hari penghabisan setelah alam semesta ini mengalami kehancuran secara total. Sikap seorang muslim terhadap hari akhir tidak hanya mempercayai, tetapi harus diwujudkan dalam ucapan dan perbuatan dalam kehidupan sehari-hari.

iman kepada hari akhir
iman kepada hari akhir

Meyakini hari akhir atau hari kiamat termasuk salah satu ciri orang yang taqwa (Muttakin), yaitu menjalankan segala perintah Allah SWT. dan menjauhi semua larangannya. Firman Allah SWT dalam Q.S. Al- Baqarah ayat 4.

Hari akhir atau hari kiamat juga mempunyai nama nama lainnya, Nama lain hari akhir adalah sebagai berikut.
1. Yaumuddin artinya hari pembalasan.
2. Yaumussa’ah artinya peristiwa yang menimpa seseorang.
3. Yaumul Hisab artinya hari perhitungan.
4. Yaumul Akhir artinya hari penghabisan.
5. Yaumul Qiyamah artinya hari kehancuran.

Yaumul qiyamah jika dilihat dari segi proses atau fase dan tingkatan nya ada 2 macam, yaitu :
1. Qiyamah Sugro artinya kehancuran kecil. Contoh dari Qiyamah sugro atau kehancuran kecil seperti kematian, gempa, sakit, kecelakaan, dan sebagainya.
2. Qiyamah Kubro artinya kerusakan/kehancuran yang besar. Yaitu seluruh alam semesta secara serentak mengalami kehancuran total seperti kehancuran bumi, langit, bulan, matahari, dan bintang-bintang seluruhnya hancur.

Bagaimana peristiwa qiyamah atau kiamat ( hari akhir ) ditinjau dari ilmu pengetahuan menurut Prof. Dr. A. Balguni Msc. Ph. D, ada tiga (3) skenario :

  1. Skenario pertama habisnya bahan bakar termonuklir, yaitu hidrogen didalam matahari. Kalau reaksi nuklir menjadi berkurang, maka bumi akan membeku.
  2. Skenario kedua ialah habisnya hidrogen di bumi. Andai kata kita dikaruniai Allah SWT untuk membangun kota dibawah tanah.
  3. Skenario ketiga ialah hasil pemikiran manusia secara ilimiah yang nilai kebenaran nya relatif atau bisa berubah-ubah. Bagaimana peristiwa qiyamah atau kiamat menurut Al-Qur’an yang nilai kebenarannya mutlak, yaitu tetap dalam pasti benarnya. Sebagaimana firman Allah SWT dalam : Q.S Az-zumar ayat 18, Q.S Al-zalzalah ayat 1-2, Q.S Al-hajj ayat 1, dan Q.S Al-Qori’ah ayat 4-5 dan lain-lain.
Kapan akan terjadinya hari akhir akhir? Hanya Allah lah yang Maha Mengetahui. Nabi Muahammad saw. sebagai kekasih dan manusia pilihan-Nya pun tidak diberi tahu tentang waktu terjadinya hari akhir atau hari qiyamah itu secara tiba-tiba. Sebagaimana firman Allah swt. dalam Q.S Al-A’raf ayat 187 yang artinya : “Hari kiamat tidak akan terjadi kepada kita semua melainkan dengan cara tiba-tiba”.
Setelah terjadi hari qiyamah, seluruh mahluk/manusia dimatikan oleh Allah swt. kemudian mengalami kehidupan yang baru di alam Barzah, yaitu alam antara alam dunia dan alam akhirat.
Kemudian setelah mengalami alam barzah, manusia akan mengalami fase-fase kehidupan akhirat nanti,  berikut nama nama dan fase hari akhir yaitu :
  1. Yaumul ba’ats artinya hari kebangkitan ( Q.S Abatsa ayat 21-22 ).
  2. Yaumul mahsyar artinya padang yang luas ( Q.S Al-An’am ayat 22 / Q.S Yaasin ayat 52  ).
  3. Yaumu hisab artinya hari perhitungan ( Q.S Al-Mujadillah ayat 61 ).
  4. Yaumul Mizan artinya hari timbanga atau pertimbangan ( Q.S Al-Anbiya ayat 47 ).
  5. Yaumul Jaza artinya hari pembalasan ( Q.S Al-Mu’mun ayat 17 )
  6. Yaumul Fashla artinya hari keputusan ( Q.S Al-Ghasiyyah ayat 1-10 )