Jawaban Tugas 4 Cerpen “Nasihat Untuk Anakku”

Halo sobat semua pada kesempatan ini saya akan memberikan jawaban teks ulasan cerpen “Nasihat Untuk Anakku”. Tugas teks ulasan cerpen ini berada pada tugas 4 buku paket sekolah siswa. Dalam ulasan materi bahasa Indonesia ini kita akan akan memberi ulasan lengkap mulai dari struktur teks, tema, plot, karakter, latar, sudut pandang, dan juga unsur ekstrinsik cerpen “Nasihat Untuk Anakku”.

Cerpen “Nasihat Untuk Anakku” ini merupakan hasil karya dari seorang sastrawan bernama Motinggo Busye. Bagaimana kejadian dari cerita pendek “Nasihat Untuk Anakku”, langsung saja kalian simak dari ulasan cerpen yang akan saya berikan dibawah ini.

1. Struktur Cerpen Nasihat Untuk Anakku

Struktur Teks Kalimat
Orientasi Cerita pendek “Nasihat Untuk Anakku” adalah karya ke-9  Motinggo Busye yang bernama asli Bustami Djalid. Cerpen ini adalah satu-satunya cerpen yang ditulis Motinggo Busye dan cerpen ini mendapatkan hadiah dari majalah sastra. Cerita pendek ini menceritakan tentang banyak berubahnya keadaan dunia,perjuangan hidup,dan berbagai nasihat dari ayah untuk anaknya.
Tafsiran Pada paragraf pertama teks ini menceritakan tentang keadaan negara indonesia berubahnya keadaan negara Indonesia.

Di paragraf selanjutnya teks ini menceritakan tentang betapa sulitnya untuk menjalankan kehidupan membutuhkan perjuangan yang berat untuk bisa memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari dan akses transportasi yang sangat buruk.

Pada teks paragraf ke-4 dan selanjutnya menceritakan penulis cerita ini/nasihat merayakan ulang tahun karena pada saat hari itu sang Ayah sedang berulang tahun. Sang Ayah membawa temannya ke warung kopi untuk merayakan hari ulang tahunnya.Di paragraf selanjutnya teks ini menceritakan tentang rencana apa yang akan digunakan dari hasil terbitnya buku sang Ayah.

Di pertengahan teks cerita pendek ini sang Ayah mendengar temannya telah melakukan bunuh diri dengan cara memotong nadinya dengan silet. Hal itu sangat memalukan.Mendekati akhir cerita teks ini memberi tahu jangan takut membela kebenaran memang terkadang kebenaran dikalahkan oleh kenyataan.

Evaluasi Cerita pendek yang ditulis oleh Motinggo Busye  disajikan dengan bahasa yang sulit dimengerti. Tetapi teks ini apabila pembaca sudah memahami teks ini maka pembaca akan tersihir dengan cerita pendek ini.

cerpen nasihat untuk anakku

Dengan berbagai nasihat yang dikandung, teks ini merupakan sebuah motivasi yang luar biasa bagi kita, bisa kita jadikan panutan dalam kehidupan sehari-hari. Cerpen ini bagus untuk para remaja karena dicerpen ini sang penulis menulis nasihat-nasihat yang baik untuk para pembaca. Cerpen ini menginformasikan bagaimana susahnya hidup dan bagaimana saat keadaaan hidup sangat minim.

Rangkuman Dengan mengesampingkan kekurangan,teks ini benar benar dibutuhkan oleh remaja di Indonesia karena banyak sekali nasihat dan motivasi untuk membangun pribadi yang lebih baik lagi.


2. Tema Cerpen Nasihat Untuk Anakku
Tema dari cerpen yang berjudul “Nasihat Untuk Anakku” ini adalah “pilihan hidup“. Adapun berikut cara bagaimana menentukan tema cerpen.
  1. Bagaimana sikap pengarang terhadap masalah yang dikemukakan di dalam cerpen “Nasihat untuk Anak’’?(Sikap pengarang pada cerpen ini sangat yakin dan berpikir positif)
  2. Apakah nasihat yang dikemukakan oleh tokoh Ayah dalam cerpen ini juga berguna bagi orang lain?(Nasihat dari cerpen ini berguna bagi orang lain juga)
  3. Apa alasan tokoh utama melarang anaknya menjadi pengarang?(Tokoh utama dalam cerpen ini melarang anaknya untuk menjadi pengarang karena ia berpikir Indonesia akan maju dengan SDA di Indonesia)
  4. Bagaimana pendapatmu tentang profesi pengarang?(Pada masa tersebut, pengarang tidak dihargai. Dengan membayangkan situasi tersebut bisa mengambil kesimpulan bahwa menjadi seorang pengarang bukanlah pilihan yang terbaik).

3. Plot Cerpen Nasihat Untuk Anakku
Berikut merupkan plot (alur cerita) dari cerpen “Nasihat Untuk Anakku”. Alur dari cerpen ini adalah alur mundur-maju.
  1. Pengenalan: Ayah adalah seorang pengarang yang hidup di zaman sebelum kemerdekaan, saat itu Indonesia masih mengalami krisis ekonomi. Ayah memiliki seorang teman yang juga berprofesi menjadi pengarang. Karena profesi itu, teman Ayah dibenci keluarganya.
  2. Timbulnya konflik: Saat ulang tahun Ayah kedua puluh lima, Ayah mentraktir temannya itu ke warung kopi. Di sana Ayah berbincang-bincang dengan temannya. Ayah mengatakan jika ia akan membeli arloji dan buku harian saat bukunya terbit. Ia juga menjelaskan alasan pembelian kedua benda itu. Temannya seperti tersihir juga termotivasi dengan pendapat Ayah.
  3. Konflik memuncak/Klimaks: Malamnya, Ayah mendapat kabar jika temannya meninggal karena bunuh diri. Teman Ayah bunuh diri karena ia merasa malu dan putus asa dengan kehidupan yang ia jalani selama ini. Kehidupan temannya ini tercermin seperti pada masyarakat umumnya. Yaitu masyarakat yang pada masa itu mengalami banyak permasalahan.
  4. Pemecahan: Sang Ayah menghimbau kepada anaknya, agar anaknya itu memilih pilihan hidup ini sesuai dengan kemampuan pikiran dan tenaganya, asal saja pilihan itu adalah pilihan yang benar, serta tidak merugikan masa depanmu dan masa depan banyak manusia. Ayah melakukan hal ini untuk menjadikan anaknya lebih baik dari dirinya.

4. Karakter Cerpen Nasihat Untuk Anakku
Tokoh utama dalam cerpen ini melarang anaknya untuk menjadi pengarang karena ia berpikir Indonesia akan maju dengan SDA di Indonesia. Tokoh utama dalam cerpen sangat berpikir positif.

5. Latar Cerpen Nasihat Untuk Anakku
Latar dalam cerpen ini terbagi menjadi 3 macam, yaitu ada latar waktu, latar tempat, dan juga latar suasana. Berikut merupakan kumpulan latar yang ada pada cerpen “Nasihat Untuk Anakku”.
a. Latar Waktu
  1. Ketika sang anak membaca surat dan nasihat dari Ayah.
  2. Tiga jam, waktu menunggu bus di Salemba.
  3. Pagi hari, saat Ayah belum sarapan.
  4. Pada hari ini, pada waktu ayah membuat nasihat dan saat ulang tahun Ayah kedua puluh lima.
  5. Besok pagi, ketika Ayah bermaksud ikut menggali kubur untuk membenamkan mayat temannya.
Menunjukkan Jam
  1. Jam dua siang, saat sang Ayah merasa sangat lapar di tengah hari.
  2. Jam delapan malam, ketika malam hari ulang tahun Ayah dan pada waktu Ayah mendengar kabar bahwa temannya telah bunuh diri.
Menunjukkan Tanggal dan Bulan
  1. Bulan Desember, waktu ketika buku Ayah terbit
  2. Tanggal dua puluh satu November, hari ulang tahun Ayah.
b. Latar Tempat
Berikut adalah latar-latar tempat yang terdapat dalam cerpen “Nasihat Untuk Anakku”.
  1. dusun-dusun.
  2. Salemba.
  3. jalan raya.
  4. secarik kertas.
  5. kantor majalah.
  6. sebuah warung kopi.
  7. di satu lembah.
  8. dalam buku harian.
  9. angkasa.
  10. dalam bumi.
  11. dinding gedung.
  12. perpustakaan.
  13. toko-toko.
Latar Suasana 
  1. Berubah, keadaan dunia antara zaman Ayah dan zaman Anaknya.
  2. Lapar, kondisi Ayah saat menunggu bus di Salemba
  3. Penuh sesak, suasana di dalam bus.
  4. Gembira, saat menerima uang honorium hasil karangan dan karena Ayah ulang tahun.
  5. Bingung, ketika Ayah ditertawakan
  6. Kaget, pada waktu mendengar kabar bahwa temannya telah bunuh diri.
  7. Bangga, saat sang Ayah menjadi pengarang hanya dengan arloji dan buku harian.
  8. Mengharukan, ketika Ayah memberikan nasihat-nasihatnya untuk si Anak, kelak.
6. Sudut Pandang Cerpen Nasihat Untuk Anakku
Berikut adalah sudut pandang dari cerpen “Nasihat Untuk Anakku”. Di dalam cerpen ini terdapat 2 sudut pandang, yaitu sebagai berikut.
  1. Orang Pertama: Pengarang terlibat langsung mengalami medalam peristiwa cerita. Pengarang menggunakan kata ganti“aku” atau “saya” sebagai tokoh utama.
  2. Orang ketiga: Pengarang tidak terlibat dalam peristiwa cerita. Biasanya pengarang menggunakan tokoh “ia”, “dia”, atau “mereka” sebagai pelaku utamanya. Atau bisa juga dengan menyebut nama tokohnya; “Aisya”, “Nia”, dan “Fahri” misalnya. Sudut pandang dalam cerita tersebut merupakan sudut pandang orang pertama pelaku utama.
7. Unsur Ekstrinsik Cerpen Nasihat Untuk Anakku
Berikut adalah unsur ekstrinsik cerpen “Nasihat untuk Anakku”.
  1. Pengarang  cerpen “Nasihat untuk Anakku” yaitu Motinggo Busye.
  2. Motinggo Busye memiliki nama asli Bustami Djalid.
  3. Beliau merupakan seorang sastrawan, sutradara, dan penyair legendaris di Indonesia maupun di dunia.
  4. Selain cerpen, Motinggo Busye juga mengarang puisi, sajak, drama, dan novel.
 Latar pengarang merupakan keadaan pengarang saat membuat suatu karya sastra.

Jawaban Buku Paket Bahasa Indonesia Kelas 10 Halaman 4-11

Halo sobat semua kali ini saya akan membagikan kepada kalian semua kunci jawaban buku paket bahasa Indonesia untuk kelas X (10) mulai dari halaman 4 sampai dengan halaman 11. Pada pelajaran ini kita akan belajar untuk membedah struktur teks laporan hasil observasi “Mahluk di Bumi ini”. Baiklah tanpa basa-basi lagi silahkan lihat jawabannya dibawah ini.

Jawaban Buku Paket Indonesia Halaman 4

Struktur Kalimat
Pernyataan umum
atau klasifikasi
Benda di dunia dapat dikelompokkan atas persamaan dan perbedaannya. Dengan melakukan pengelompokan, benda-benda itu lebih mudah dipelajari.
Anggota/aspek yang
dilaporkan
Semua benda di dunia ini dapat diklasifikasi menjadi dua kelompok, yaitu benda hidup dan benda mati. Yang pertama sering disebut benda hidup dan yang kedua disebut benda mati. Benda hidup mempunyai ciri umum, seperti bergerak, bernapas, tumbuh, dan mempunyai keturunan. Benda hidup juga membutuhkan makanan. Benda mati dibedakan dari benda hidup karena benda mati tidak mempunyai ciri umum tersebut. Kera, tumbuh-tumbuhan, ikan, dan bunga adalah contoh benda hidup. Kaca, air, plastik, baja, dan oksigen adalah contoh benda mati.
Anggota/aspek yang
dilaporkan
Benda hidup dapat dikelompokkan lagi menjadi hewan dan tumbuh-tumbuhan. Pengelompokan itu dilakukan karena keduanya berbeda dalam beberapa hal. Tumbuhtumbuhan tidak dapat bergerak dari satu tempat ke tempat lain. Tumbuh-tumbuhan tidak mempunyai otak, jantung, paru-paru, dan darah, tetapi hidup. Selain itu, tumbuh-tumbuhan dapat melakukan sesuatu yang sangat penting yang tidak dapat dilakukan oleh hewan. Tumbuh-tumbuhan dapat menghasilkan makanan sendiri, sedangkan hewan tidak. Rumput, gandum, dan tanaman keras adalah jenis tumbuhtumbuhan. Namun, tidak semua tumbuh-tumbuhan mempunyai bunga. Oleh karena itu, tumbuh-tumbuhan dapat dikelompokkan menjadi tumbuh-tumbuhan berbunga dan tumbuh-tumbuhan tidak berbunga. Mawar, jagung, dan tanaman buah mempunyai bunga, tetapi jamur, lumut, dan pakis tidak.
Anggota/aspek yang
dilaporkan
Selanjutnya, hewan dapat dibagi menjadi vertebrata dan invertebrata. Vertebrata mempunyai tulang belakang yang meliputi manusia, burung, kucing, katak, dan lain-lain, sedangkan invertebrata tidak mempunyai tulang belakang yang meliputi uburubur, kupu-kupu, dan laba-laba. Ada lima kelompok vertebrata, yaitu mamalia, burung, amfibia, reptilia, dan ikan.

Klasifikasi Benda dari teks “Mahluk di Bumi Ini”
Jawaban Buku Paket Indonesia Halaman 9
  1. Wawan memisahkan antara uang logam dan uang kertas. 
  2. Rini memilah barang bekas dan barang baru milikinya.
  3. Harimau digolongkan kedalam mamalia.
Jawaban Buku Paket Indonesia Halaman 10
  1. Persamaan >< Perbedaan             
  2. Bergerak >< Diam
  3. Keras >< Lunak
  4. Tumbuh ><  Mati (tanaman)
  5. Umum >< Khusus
  6. Belakang >< Depan
  7. Kelompok >< Individu
  8. Sebagian >< Seluruh
  9. Panjang >< Pendek
  10. Berubah >< Tetap
Jawaban Buku Paket Indonesia Halaman 11
Kata Dasar Verba Nomina
Bagi Membagi Bagian
Membagikan Pembagian
Berbagi
Membagi-bagikan
Terbagi
Dibagi
Dibagi
Dibagikan
Golong Menggolongkan Penggolong
Tergolong Penggolongan
Digolongkan
Pilah Memilah Pemilihan
terpilah
Dipilah
Terpiliah-pilah
Kelompok Menhgkelompokan Pengkelompokan
Dikelompokan Kekelompokan
Terkelompok
Berkelompok
Jenis Menjeniskan Penjenisan
Terjenis
Dijeniskan
Berjenis
Besar Membesar Besaran
Membesarkan Pembesaran
Terbesar Kebesaran
Dibesarkan
Kecil Mengkecil Perkecilan
Menkecilkan
Terkecil
Dikecilkan
Tumbuh Bertumbuh Pertumbuhan
Ditumbuhkan Tumbuhan
Sama Bersama Persamaan
Disamakan Kesamaan
Berbeda Membedakan Perbedaan
Berbeda
Dibedakan
Membeda-bedakan
Umum Mengumumkan Pengumuman
Diumumkan

Jawaban Buku Paket Indonesia, Teks “Dongeng Utopia Masyarakat Borjuis”

Halo sobat semua kali ini saya akan memberikan kepada kalian semua jawaban buku paket bahasa Indonesia yang mungkin sedang kalian cari saat ini. Pelajaran kita kali ini adalah mengenai ulasan teks “Dongeng Utopia Masyarakat Borjuis”, adapun jawaban pada kali ini meliputi kaidah kebahasaan dari teks ulasan seperti kosa kata, verba, nomina, adjektiva, pronomina, konjungsi, kata depan, artikel, dan juga kalimat kompleks dan simpleks.



Mengidentifikasi Kaidah Kebahasaan Teks “Dongeng Utopia Masyarakat Borjuis”

1. Kosa Kata

No. Kosakata Arti Kosakata
1. Adaptasi Penyesuaian terhadap lingkungan
2. Akses Jalan masuk
3. Bioskop Tempat untuk menonton pertunjukan film dengan menggunakan layar lebar.
4. Borjuis Kelas masyarakat dari golongan menengah ke atas
5. Destruktif Bersifat merusak
6. Eksploitasi Pemanfaatan untuk keuntungan sendiri
7. Fragmentasi Pencuplikan (cerita dsb)
8. Gender Suatu konsep kultural yang merujuk pada karakteristik yang membedakan antara wanita dan pria baik secara biologis, perilaku, mentalitas, dan sosial budaya.
9. Harmonis Bersangkut paut dengan (mengenai) harmoni; kondisi seiya sekata diantara anggota keluarga
10. Inspirasi Ilham
11. Klasik Mempunyai nilai atau mutu yang diakui dan menjadi tolok ukur kesempurnaan yang abadi; tertinggi
12. Kolektif Secara bersama; secara gabungan
13. Koma Keadaan tidak sadar sama sekali dan tidak mampu memberi reaksi terhadap suatu rangsangan (karena keracunan, sakit parah, dsb)
14. Kompensasi Ganti rugi
15. Kutub Ujung poros atau sumbu bumi
16. Logika Jalan pikiran yang masuk akal
17. Metafora Pemakaian kata atau kelompok kata bukan dengan arti yang sebenarnya, melainkan sebagai lukisan yang berdasarkan persamaan atau perbandingan
18. Model Pola (contoh, acuan, ragam, dsb) dari sesuatu yang akan dibuat atau dihasilkan
19. Obsesi Gangguan jiwa berupa pikiran yang selalu menggoda seseorang dan sangat sukar dihilangkan
20. Oposisi biner Berpaku pada hal-hal yang berlawanan
21. Paradoks Pernyataan yang seolah-olah bertentangan (berlawanan) dengan pendapat umum atau kebenaran, tetapi kenyataannya mengandung kebenaran
22. Protektif Sifat orang untuk menjaga dan melindungi sesuatu yang disayanginya secara berlebihan
23. Ras Golongan bangsa berdasarkan ciri-ciri fisik; rumpun bangsa:
24. Realita sosial Suatu peristiwa yang memang benar terjadi di tengah – tengah masyarakat.
25. Sindrom Himpunan gejala atau tanda yang terjadi serentak (muncul bersama-sama) dan menandai ketidaknormalan tertentu; hal-hal (seperti emosi atau tindakan) yang biasanya secara bersama-sama membentuk pola yang dapat diidentifikasi
26. Sekolah singgah Tempat belajar yang  hanya menumpang
27. Temperamen Gaya perilaku seseorang dan cara khasnya dalam memberi tanggapan.
28. Tradisi Adat kebiasaan turun-temurun (dari nenek moyang) yang masih dijalankan di masyarakat; Sesuatu yang telah dilakukan untuk sejak lama dan menjadi bagian dari kehidupan suatu kelompok masyarakat, biasanya dari suatu negara, kebudayaan, waktu, atau agama yang sama
29. Utopia Sistem sosial politik yang sempurna yang hanya ada di bayangan (khayalan) dan sulit atau tidak mungkin diwujudkan di kenyataan
30. Villa Rumah mungil di luar kota atau di pegunungan; rumah peristirahatan (digunakan hanya pada waktu liburan)


Kata Asing
No. Kata Asing Arti
1. Leisure activity Aktivitas yang menyenangkan,dilakukan pada waktu senggang
2. Opposite attracks Tertarik pada suatu hal yang berlawanan
3. Privilege Hak istimewa yang tidak bisa didapat oleh setiap orang. 
4. Self-reference Referensi untuk pribadi
5. Scene Adegan
5. Taken-for-granted  Tidak menganggap atau tidak menghargai nilai dari suatu hal karena sudah sangat biasa terjadi.

2. Verba/Kata Kerja
No. Kata Dasar Verba Nomina
1. Ulas Mengulas Ulasan
2. Nilai Menilai Penilaian
3. Evaluasi Mengevaluasi Pengevaluasi
4. Kritik Mengkritik Kritikan
5. Ukur Mengukur Ukuran
6. Komentar Mengomentari Pengomentar
7. Tafsir Menafsirkan Tafsiran
8. Kupas Mengupas Kupasan

Verba Aktif dan Pasif
No. Kata Dasar Verba Aktif Verba Pasif
1. Kembang mengembang, mengembangkan Dikembangkan
2. Acu Mengacu Diacu
3. Paku Memaku Dipaku
4. Lawan Melawan Dilawan
5. Utama Mengutamakan Diutamakan, Terutama
6. Kaitan Mengaitkan Dikaitkan, Terkait
7. Adaptasi Mengadaptasi Diadaptasi
8. Inspirasi Menginspirasikan Diinspirasikan, Terinspirasi
9. Alami Mengalamikan Dialamikan
10. Jendela Menjendelakan Dijendelakan
11. Belajar Mengajar Diajar
12. Mukim Memukimkan Dimukimkan
13. Obsesi Mengobsesikan Diobsesikan, Terobsesi
14. Gambar Menggambarkan
Digambarkan, Tergambar
15. Rusak Merusak Dirusak
16. Tenang Menenangkan Ditenangkan
17. Mewah Memewahkan Dimewahkan
3. Nomina
No. Nomina Umum Nomina Khusus
1. film Sanggar
2. rumah Hollywood
3. impian Aldo
4. keluarga Rara
5. majalah si Mbok
6. buku Komunitas
7. jendela Mobil
8. negara Krayon
9. polisi Kolam renang
10. vila Kamera
11. jakarta Bioskop
4. Pronomina
Berikut merupakan pronomina yang ada pada teks “Dongeng Utopia Masyarakat Borjuis” adalah sebagai berikut.
  1. Sebuah impian yang harus ia bayar mahal di kemudian hari.
  2. Namun, permasalahan dari film musikal anak-anak adalah bahwa ia menawarkan resolusi yang dibayangkan oleh pembuat film agar bisa dipahami oleh anak-anak.
  3. Oleh sebab itu, perbedaan si miskin dan si kaya dalam film ini adalah iayang berpunya dan ia yang tak-berpunya.
  4. Namun, keinginan Rara itu dimaknai sebagai keinginan yang berlebihan ketika ia“dihukum” dengan kompensasi yang harus ia bayar.
  5. Sang pangeran adalah tokoh Aldo, seorang anak laki-laki dari keluarga kaya-raya dengan sindrom mental, yang membuatnya mengalami “penolakan” dari komunitasnya(anggota keluarga).
  6. Aldo mewakili ide paradoks keluarga borjuis yang pemenuhan kebutuhan fisiknya berlebihan, tetapi jiwanya kering dan mengakibatkan dilema personal.
  7. Rumah itu ditempati Rara bersama nenek (Si Mbok) dan ayahnya.
  8. Rara mewakili narasi kemiskinan dalam segala keterbatasan materialnya: rumah tanpa jendela, sekolah seadanya, dan kerja sampingan.
  9. Rara menginginkan hal yang tak mungkin menjadi miliknya, yaitu kemewahan berupa rumah berjendela.
  10. Logika pemaknaan tersebut bekerja ketika Rara yang larut dalam kesenangan borjuis (pesta ulang tahun kakak Aldo) pulang untuk menemukan rumahnya habis terbakar, Si Mbok tergeletak koma dan ayahnya meninggal dunia.
  11. Keinginan Rara untuk memiliki sesuatu, alih-alih dimaknai sebagai hasrat kepemilikan yang lumrah dimiliki semua orang, justru dianggap sebagai sesuatu yang menyalahi/mengingkari takdirnya sebagai orang yang tidak berpunya.
  12. Oleh karena itu, untuk “membayar” pelajaran yang mereka dapat ini, keluarga Aldo menolong Rara dan Si Mboknya dengan membayarkan biaya rumah sakit serta memberikan penghidupan di villa milik mereka di luar Jakarta.
  13. Permasalahan yang dimiliki anak-anak ini diperlihatkan sebagai sesuatu yang alami dengan lebih menekankan cara menghadapi permasalahan alih-alih mempertanyakan penyebabnya.
  14. Jendela memungkinkan seseorang untuk mengakses dunia lain (dari dalam atau dari luar) tanpa meninggalkan tempatnya.
  15. Dengan si miskin berlapang dada menerima kondisinya dan si kaya belajar bersyukur dari kemalangan si miskin, masyarakat borjuis yang sempurna dan harmonis akan tercipta.
  16. Sebuah dongeng untuk membuai mereka dalam mimpi-mimpi borjuis, agar mereka nanti terbangun sebagai manusia-manusia borjuis dewasa yang diharapkan bisa meneruskan tatanan masyarakat, yang kemiskinan dan kekayaan ternaturalisasi sebagai takdir dan karenanya tidak perlu dipertanyakan.
  17. Satu-satunya yang terwakili oleh scene-scene musikal dan gerak kamera serta editing yang kadang hiperaktif adalah energi dan semangat kanak-kanak.
5. Adjektiva

No. Adjektiva Frasa Adjektiva
1. kumuh permukiman kumuh
2. kering jiwanya kering
3. dramatis penekanan dramatis
4. cilik gadis cilik
5. dramatis penekanan dramatis
6. utuh keluarga yang utuh
7. berlebihan fisiknya berlebihan
8. baik keadaanya baik
9. dilemana mengakibatkan dilema personal


6. Konjungsi
No. Konjungsi Kalimat
1. Koordinatif:
• dan
• atau
• tetapi
  1. Aldo mewakili ide paradoks keluarga borjuis yang pemenuhan kebutuhan fisiknya berlebihan, tetapi jiwanya kering dan mengakibatkan dilema personal.
  2. Rara tinggal di sebuah rumah tidak berjendela yang terbuat dari seng, tripleks, dan kayu bekas di salah satu kawasan permukiman kumuh.
  3. Rumah itu ditempati Rara bersama nenek (Si Mbok) dan ayahnya.
  4. Mengikuti tradisi opposite attracks, Aldo dan Rara bertemu secara tidak sengaja dalam sebuah kecelakaan kecil.
  5. Hal itu tergambar pada kondisi keluarga Aldo dan teman-teman Rara, antara si miskin dan si kaya.
  6. Persahabatan Aldo dan Rara tidak berjalan mulus.
  7. Ibu dan kakak perempuan Aldo menganggap teman-teman baru Aldo sebagai perusak ketenangan di rumah mereka.
  8. Penyederhanaan posisi berlawanan si miskin dan si kaya terwakili oleh narasi sosialekonomi Aldo dan Rara.
  9. Aldo, si kaya, memiliki berbagai privilege (mobil mewah, rumah mewah, supir, pembantu, dan sekolah khusus).
  10. Rara mewakili narasi kemiskinan dalam segala keterbatasan materialnya: rumah tanpa jendela, sekolah seadanya, dan kerja sampingan.
  11. Oleh sebab itu, perbedaan si miskin dan si kaya dalam film ini adalah ia yang berpunya dan ia yang tak-berpunya.
  12. Aldo memungkinkan Rara mengakses ini dan bahkan yang lebih lagi: kolam renang, mobil, buku, dan krayon.
  13. Logika pemaknaan tersebut bekerja ketika Rara yang larut dalam kesenangan borjuis (pesta ulang tahun kakak Aldo) pulang untuk menemukan rumahnya habis terbakar, Si Mbok tergeletak koma dan ayahnya meninggal dunia.
  14. Lebih jauh lagi, kemalangan Rara tersebut digunakan sebagai pelajaran yang bisa dipetik bagi keluarga Aldo, bahwa mereka harus bersyukur atas semua yang mereka punyai (harta dan keluarga yang utuh), sementara ada orang-orang yang tidak berpunya seperti Rara.
  15. Oleh karena itu, untuk “membayar” pelajaran yang mereka dapat ini, keluarga Aldo menolong Rara dan Si Mboknya dengan membayarkan biaya rumah sakit serta memberikan penghidupan di villa milik mereka di luar Jakarta.
  16. Hal ini paling tampak dalam posisi biner permasalahan Aldo dan Rara.
  17. Dengan si miskin berlapang dada menerima kondisinya dan si kaya belajar bersyukur dari kemalangan si miskin, masyarakat borjuis yang sempurna dan harmonis akan tercipta.
  18. Sebuah dongeng untuk membuai mereka dalam mimpi-mimpi borjuis, agar mereka nanti terbangun sebagai manusia-manusia borjuis dewasa yang diharapkan bisa meneruskan tatanan masyarakat, yang kemiskinan dan kekayaan ternaturalisasi sebagai takdir dan karenanya tidak perlu dipertanyakan. 
  19. Karena hanya dalam kondisi itulah, si kaya termungkinkan ada dan bisa melanjutkan upaya memperkaya diri mereka; dengan membiarkan kemiskinan ada dan ‘tidak tampak’ di depan mata.
  20. Sayang, sebagai sebuah film musikal, tidak banyak yang disumbangkan oleh lagu-lagu yang dinyanyikan dan ditarikan dalam film ini, kecuali penekanan dramatis belaka.
  21. Satu-satunya yang terwakili oleh scene-scene musikal dan gerak kamera serta editing yang kadang  hiperaktif adalah energi dan semangat kanak-kanak.
  22. Penekanan pada kolektivitas ini merupakan salah satu “karateristik” film musikal klasik Hollywood yang ingin menjual ideide soal komunitas dan stabilitas sosial, baik relasi interkomunitas (konflik keluarga Aldo) maupun antarkomunitas (konflik antara keluarga Aldo dan komunitas Rara).
  23. Film tersebut menggambarkan keluarga baik-baik dan protektif untuk meyakinkan bahwa pergaulan Rara terbebas dari eksploitasi maupun perilaku destruktif yang merupakan bagian dari kehidupan masyarakat miskin di belahan dunia manapun.
  24. Tradisi film musikal yang dikembangkan di Hollywood mengacu pada kecenderungan film-film musikal klasik tahun 1930-1960-an, berpaku pada hal-hal yang berlawanan (oposisi biner), terutama berkaitan dengan gender, ras, agama, latar belakang, atau temperamen.
  25. Dengan begitu, mereka melakukan kewajiban membalas budi tanpa perlu mengorbankan kenyamanan dengan berbagi kepemilikan ataupun terlibat secara dekat.
  26. Dalam model utopia (khayalan) yang terdapat di dalam film tersebut, anak-anak menjadi “penanda” dari kelahiran atau takdir manusia.
  27. Jendela dalam film “Rumah Tanpa Jendela” merupakan sebuah metafora yang mengena. Jendela memungkinkan seseorang untuk mengakses dunia lain (dari dalam atau dari luar) tanpa meninggalkan tempatnya.
  28. Jendela adalah rasa syukur atau konsep penerimaan atas suatu kondisi.
  29. Film ini menawarkan model utopia dalam merespons kondisi masyarakat Indonesia yang terfragmentasi dalam kelas-kelas sosial-ekonomi, yaitu utopia atau kondisi hidup ideal yang dibayangkan oleh kelas menengah atas.
  30. Aldo mewakili ide paradoks keluarga borjuis yang pemenuhan kebutuhan fisiknya berlebihan, tetapi jiwanya kering dan mengakibatkan dilema personal.
2. Subordinatif:
• sesudah
• sebelum
• sementara
• jika
• agar
• supaya
• meskipun
• alih-alih
• sebagai
• sebab
• karena
• maka
  1. Lebih jauh lagi, kemalangan Rara tersebut digunakan sebagai pelajaran yang bisa dipetik bagi keluarga Aldo, bahwa mereka harus bersyukur atas semua yang mereka punyai (harta dan keluarga yang utuh), sementara ada orang-orang yang tidak berpunya seperti Rara.
  2. Jendela memungkinkan orang melihat, bukan terlibat jika dibandingkan dengan pintu yang menyediakan akses untuk masuk/ keluar.
  3. Namun, permasalahan dari film musikal anakanak adalah bahwa ia menawarkan resolusi yang dibayangkan oleh pembuat film agar bisa dipahami oleh anak-anak.
  4. Sebuah dongeng untuk membuai mereka dalam mimpi-mimpi borjuis, agar mereka nanti terbangun sebagai manusia-manusia borjuis dewasa yang diharapkan bisa meneruskan tatanan masyarakat, yang kemiskinan dan kekayaan ternaturalisasi sebagai takdir dan karenanya tidak perlu dipertanyakan.
  5. Sementara itu, si miskin diwakili oleh tokoh Rara, gadis cilik yang sesekali bekerja sebagai ojek payung di sanggar lukis tempat Aldo belajar.
  6. Ibu dan kakak perempuan Aldo menganggap teman-teman baru Aldo sebagai perusak ketenangan di rumah mereka.
  7. Namun, keinginan Rara itu dimaknai sebagai keinginan yang berlebihan ketika ia “dihukum” dengan kompensasi yang harus ia bayar. 
  8. Keinginan Rara untuk memiliki sesuatu, alih-alih dimaknai sebagai hasrat kepemilikan yang lumrah dimiliki semua orang, justru dianggap sebagai sesuatu yang menyalahi/mengingkari takdirnya sebagai orang yang tidak berpunya.
  9. Permasalahan yang dimiliki anak-anak ini diperlihatkan sebagai sesuatu yang alami dengan lebih menekankan cara menghadapi permasalahan alih-alih mempertanyakan penyebabnya.
  10. Dongeng semacam inilah yang ditawarkan “Rumah Tanpa Jendela” pada penonton yang mereka sasar, tidak lain tentu anak-anak kelas menengah atas yang mampu mengakses bioskop sebagai bagian dari leisure activity.
  11. Sebuah dongeng untuk membuai mereka dalam mimpi-mimpi borjuis, agar mereka nanti terbangun sebagai manusia-manusia borjuis dewasa yang diharapkan bisa meneruskan tatanan masyarakat, yang kemiskinan dan kekayaan ternaturalisasi sebagai takdir dan karenanya tidak perlu dipertanyakan.
  12. Sayang, sebagai sebuah film musikal, tidak banyak yang disumbangkan oleh lagu-lagu yang dinyanyikan dan ditarikan dalam film ini, kecuali penekanan dramatis belaka.
  13. Dalam hal ini, film musikal mengamini konsep “film yang menghibur” sebagai utopia itu sendiri. Namun, pertanyaannya adalah utopia menurut siapa?
  14. Karena hanya dalam kondisi itulah, si kaya termungkinkan ada dan bisa melanjutkan upaya memperkaya diri mereka; dengan membiarkan kemiskinan ada dan ‘tidak tampak’ di depan mata.
3. Korelatif:
• Baik …
maupun …,
•tidakhanya…, tetapi….
• demikian…
sehingga …
• entah…entah
• jangankan… pun …
  1. Layaknya dongeng anak-anak dalam majalah Bobo, film “Rumah Tanpa Jendela” menyampaikan ajaran moral pada anak-anak untuk menghadapi realita sosial dalam masyarakat yang terfragmentasi dalam perbedaan, baik secara struktur sosial-ekonomi maupun kondisi fisik/mental.
  2. Penekanan pada kolektivitas ini merupakan salah satu “karateristik” film musikal klasik Hollywood yang ingin menjual ideide soal komunitas dan stabilitas sosial, baik relasi interkomunitas (konflik keluarga Aldo) maupun antarkomunitas (konflik antara keluarga Aldo dan komunitas Rara).
4. Antarkalimat:
• sungguhpun demikian
• sekalipun demikian
• meskipun demikian
• selanjutnya
• sesudah itu
• setelah itu
• di samping itu
• sebaliknya
• akan tetapi
  1. Dengan begitu, mereka melakukan kewajiban membalas budi tanpa perlu mengorbankan kenyamanan dengan berbagi kepemilikan ataupun terlibat secara dekat.
  2. Sementara itu, si miskin diwakili oleh tokoh Rara, gadis cilik yang sesekali bekerja sebagai ojek payung di sanggar lukis tempat Aldo belajar.
  3. Sementara itu, kemewahan rumah Aldo dengan banyak jendela menularkan obsesi untuk memiliki rumah berjendela di kalangan teman-teman Rara.
  4. Sementara itu, Rara mewakili narasi kemiskinan dalam segala keterbatasan materialnya: rumah tanpa jendela, sekolah seadanya, dan kerja sampingan.
  5. Oleh sebab itu, perbedaan si miskin dan si kaya dalam film ini adalah ia yang berpunya dan ia yang tak-berpunya.
  6. Oleh karena itu, untuk “membayar” pelajaran yang mereka dapat ini, keluarga Aldo menolong Rara dan Si Mboknya dengan membayarkan biaya rumah sakit serta memberikan penghidupan di villa milik mereka di luar Jakarta.

7. Kata Depan
Berikut merupakan contoh kata depan atau preposisi.
  1. Aldo mewakili ide paradoks keluarga borjuis yang pemenuhan kebutuhan fisiknya berlebihan, tetapi jiwanya kering dan mengakibatkan dilema personal. Sementara itu, si miskin diwakili oleh tokoh Rara, gadis cilik yang sesekali bekerja sebagai ojek payung di sanggar lukis tempat Aldo belajar.
  2. Rara tinggal di sebuah rumah tidak berjendela yang terbuat dari seng, tripleks, dan kayu bekas di salah satu kawasan permukiman kumuh.
  3. Ibu dan kakak perempuan Aldo menganggap teman-teman baru Aldo sebagai perusak ketenangan di rumah mereka.
  4. Sementara itu, kemewahan rumah Aldo dengan banyak jendela menularkan obsesi untuk memiliki rumah berjendela di kalangan teman-teman Rara.
  5. Oleh karena itu, untuk “membayar” pelajaran yang mereka dapat ini, keluarga Aldo menolong Rara dan Si Mboknya dengan membayarkan biaya rumah sakit serta memberikan penghidupan di villa milik mereka di luar Jakarta.
  6. Dalam model utopia (khayalan) yang terdapat di dalam film tersebut, anak-anak menjadi “penanda” dari kelahiran atau takdir manusia.
  7. Karena hanya dalam kondisi itulah, si kaya termungkinkan ada dan bisa melanjutkan upaya memperkaya diri mereka; dengan membiarkan kemiskinan ada dan ‘tidak tampak’ di depan mata.
  8. Film tersebut menggambarkan keluarga baik-baik dan protektif untuk meyakinkan bahwa pergaulan Rara terbebas dari eksploitasi maupun perilaku destruktif yang merupakan bagian dari kehidupan masyarakat miskin di belahan dunia manapun.
  9. Film tersebut diadaptasi dari cerpen “Jendela Rara” karya Asma Nadia.
  10. Kisah dalam film tersebut terinspirasi dari model biner dalam dongeng moral berjudul The Prince and The Pauper karya Mark Twain.
  11. Sang pangeran adalah tokoh Aldo, seorang anak laki-laki dari keluarga kaya-raya dengan sindrom mental, yang membuatnya mengalami “penolakan” dari komunitasnya (anggota keluarga).
  12. Namun, permasalahan dari film musikal anakanak adalah bahwa ia menawarkan resolusi yang dibayangkan oleh pembuat film agar bisa dipahami oleh anak-anak.
  13. Dalam model utopia (khayalan) yang terdapat di dalam film tersebut, anak-anak menjadi “penanda” dari kelahiran atau takdir manusia.
  14. Kekurangan pada diri Aldo yang mewakili aspek natural takdir disandingkan dengan kemiskinan Rara sehingga membuat kemiskinan ternaturalisasikan lewat logika pemahaman yang sama, alih-alih hasil dari ketidakadilan distribusi kekayaan yang didukung negara, film ini menggambarkan kemiskinan sebagai bagian dari takdir manusia.
  15. Jendela memungkinkan seseorang untuk mengakses dunia lain (dari dalam atau dari luar) tanpa meninggalkan tempatnya.
  16. Dongeng semacam inilah yang ditawarkan “Rumah Tanpa Jendela” pada penonton yang mereka sasar, tidak lain tentu anak-anak kelas menengah atas yang mampu mengakses bioskop sebagai bagian dari leisure activity.
  17. Dari paparan tadi, dapat disimpulkan bahwa film “Rumah Tanpa Jendela” memungkinkan kita bicara mengenai posisi biner kelas sosial-ekonomi lewat model film musikal klasik ala Hollywood
  18. Lebih jauh lagi, kemalangan Rara tersebut digunakan sebagai pelajaran yang bisa dipetik bagi keluarga Aldo, bahwa mereka harus bersyukur atas semua yang mereka punyai (harta dan keluarga yang utuh), sementara ada orang-orang yang tidak berpunya seperti Rara.
  19. Dengan begitu, mereka melakukan kewajiban membalas budi tanpa perlu mengorbankan kenyamanan dengan berbagi kepemilikan ataupun terlibat secara dekat.
  20. Layaknya dongeng anak-anak dalam majalah Bobo, film “Rumah Tanpa Jendela” menyampaikan ajaran moral pada anak-anak untuk menghadapi realita sosial dalam masyarakat yang terfragmentasi dalam perbedaan, baik secara struktur sosial-ekonomi maupun kondisi fisik/mental.
  21. Mengikuti tradisi opposite attracks, Aldo dan Rara bertemu secara tidak sengaja dalam sebuah kecelakaan kecil. 
  22. Tradisi film musikal yang dikembangkan di Hollywood mengacu pada kecenderungan film-film musikal klasik tahun 1930-1960-an, berpaku pada hal-hal yang berlawanan (oposisi biner), terutama berkaitan dengan gender, ras, agama, latar belakang, atau temperamen.
  23. Hal itu tergambar pada kondisi keluarga Aldo dan teman-teman Rara, antara si miskin dan si kaya.
  24. Penekanan pada kolektivitas ini merupakan salah satu “karateristik” film musikal klasik Hollywood yang ingin menjual ideide soal komunitas dan stabilitas sosial, baik relasi interkomunitas (konflik keluarga Aldo) maupun antarkomunitas (konflik antara keluarga Aldo dan komunitas Rara).
  25. Lagipula, memakai perspektif realisme sosial dalam menilai film musikal adalah sia-sia, mengingat film musikal sendiri menawarkan utopia dalam bentuk hiburan dengan mengacu pada diri sendiri (self-reference).
8. Artikel
  1. Sang pangeran adalah tokoh Aldo, seorang anak laki-laki dari keluarga kaya-raya dengan sindrom mental, yang membuatnya mengalami “penolakan” dari komunitasnya (anggota keluarga).
  2. Sementara itu, si miskin diwakili oleh tokoh Rara, gadis cilik yang sesekali bekerja sebagai ojek payung di sanggar lukis tempat Aldo belajar.
  3. Hal itu tergambar pada kondisi keluarga Aldo dan teman-teman Rara, antara si miskin dan si kaya
  4. Penyederhanaan posisi berlawanan si miskin dan si kaya terwakili oleh narasi sosial-ekonomi Aldo dan Rara
  5. Oleh sebab itu, perbedaan si miskin dan si kaya dalam film ini adalah ia yang berpunya dan ia yang tak-berpunya
  6. Logika pemaknaan tersebut bekerja ketika Rara yang larut dalam kesenangan borjuis (pesta ulang tahun kakak Aldo) pulang untuk menemukan rumahnya habis terbakar, Si Mbok tergeletak koma dan ayahnya meninggal dunia.
  7. Oleh karena itu, untuk “membayar” pelajaran yang mereka dapat ini, keluarga Aldo menolong Rara dan Si Mboknya dengan membayarkan biaya rumah sakit serta memberikan penghidupan di villa milik mereka di luar Jakarta.
  8. Dengan si miskin berlapang dada menerima kondisinya dan si kaya belajar bersyukur dari kemalangan si miskin, masyarakat borjuis yang sempurna dan harmonis akan tercipta
  9. Karena hanya dalam kondisi itulah, si kaya termungkinkan ada dan bisa melanjutkan upaya memperkaya diri mereka; dengan membiarkan kemiskinan ada dan ‘tidak tampak’ di depan mata.
9. Kalimat Simpleks dan Kompleks
Contoh kalimat simpleks
  1. Rumah itu ditempati Rara bersama neneknya (Si Mbok) dan ayahnya.
  2. Sebuah impian yang harus ia bayar mahal di kemudian hari.
Contoh kalimat komplek
  1. Logika pemaknaan tersebut bekerja ketika Rara yang larut dalam kesenangan borjuis (pesta ulang tahun kakak Aldo) pulang untuk menemukan rumahnya habis terbakar, Si Mbok tergeletak koma dan ayahnya meninggal dunia.
  2. Keinginan Rara untuk memiliki sesuatu, alih-alih dimaknai sebagai hasrat kepemilikan yang lumrah dimiliki semua orang, justru dianggap sebagai sesuatu yang menyalahi/mengingkari takdirnya sebagai orang yang tidak berpunya.

Jawaban Buku Paket Indonesia Kelas 10 Halaman 116-117

Hai semuanya kali ini admin akan memberikan kepada kalian kunci jawaban dari buku paket bahasa Indonesia kurikulum 2013 (kurtilas) untuk kelas 10 SMA halaman 116-117. Pada halaman ini merupakan pertanyaan yang diperintahkan untuk melabeli struktur teks anekdot, nah berikut merupakan jawaban struktur untuk teks anekdot tersebut.

tugas 5 melabeli struktur teks anekdot

Tugas 5: Melabeli Struktur Teks Anekdot

Jawaban Buku Paket Halaman 116-117

Struktur Kalimat
Abstraksi Saya tinggal di rumah susun. Saya mempunyai pengalaman yang memalukan tadi pagi.
Orientasi Tetangga saya, sepasang suami istri yang tinggal di lantai bawah, tadi malam menyelenggarakan pesta bersama teman-teman mereka. Mereka sangat gaduh, tetapi tidaklah mengapa. Istri saya terbangun berkali-kali.
Krisis Lalu, tadi pagi terdapat sebuah mobil diparkir di depan jalan ke luar kami. Saya mengira bahwa mobil itu milik seseorang yang ikut pesta tadi malam. Saya mengetuk pintu tetangga saya itu. Saya ketuk pintunya berkali-kali, tetapi tak seorang pun keluar. Saya kira mereka masih tertidur karena mereka berpesta-pora sampai larut malam sehingga saya ketuk-ketuk terus dengan keras: pintu, jendela, dan apa pun yang dapat saya ketuk dalam jangkauan. Akhirnya, seorang laki-laki terbangun dan melongok ke luar jendela. Saya menjelaskan persoalan yang terjadi. Ternyata, pesta tadi malam itu bukan pestanya. Rumah susun ini terbagi menjadi dua sisi dan itu adalah pesta orang yang tinggal di sisi sebelah belakang. 
Reaksi Lelaki itu terlihat tidak suka karena ia juga tidak dapat tidur
Koda Saya masih belum tahu mobil siapa yang menghalangi jalan ke luar kami itu.

Nah lalu setelah kalian selesai melabeli struktur teks anekdot diatas, pasti kalian akan disuruh untuk membuat teks anekdot dengan cara mengganti pelaku, tempat kejadian, dan persoalan yang dihadapi tokoh. Berikut merupakan contoh teks anekdot tersebut.
Judul : Pengalaman yang Memalukan
Struktur Kalimat
Abstraksi Saya tinggal di sebuah kecamatan di Semarang. Saya mempunyai pengalaman yang memalukan menjelang Lebaran tahun lalu.
Orientasi Kejadiannya sore hari di sebuah tempat pencucian motor. Waktu itu tepat hari terakhir bulan puasa dan besoknya lebaran. Aku bersama kakakku mencuci motor, dan waktu itu tempat pencucian motor sangat ramai. Sambil menunggu motor dicuci sambil duduk di kursi panjang yang ada di dekat cucian. Banyak juga yang lagi antri menunggu motor dicuci salah satunya adalah bapak-bapak yang duduk tepat di samping Aku. Aku bersama kakakku ngobrol sambil duduk menunggu motor dicuci.
Krisis Tiba-tiba mataku tertuju pada sebuah mobil yang sedang dicuci. mobilnya warnanya hijau tidak jelas. jadi aku bilang sama kakakku. “Kalau aku punya uang banyak, tidak akan membeli mobil dengan warna seperti itu. jelek sekali. dan tidak kelihatan mewahnya.” Kakakku juga ikut terpancing. jadi kami terus menjelek-jelekan mobil tersebut. Setelah motor kami sudah selesai dicuci. kami bermaksud hendak membayar. dan bapak-bapak dan yang duduk di sebelah kami juga mau bayar. Ternyata setelah membayar, bapak-bapak menuju menuju mobil yang kami cela tadi. 
Reaksi Ya Allah…, malu sekali…., karena bapak-bapak yang duduk di sebelah kami ternyata pemilik mobil yang kami cela tadi. 
Koda Sepertinya puasa kami tidak diterima karena tidak bisa menjaga bicara dengan mencela mobil bapak-bapak tadi.

Jawaban Buku Paket Bahasa Indonesia Kelas 12 Halaman 140-144 (Semester 2)

Halo berjumpa lagi dengan materikelas.com yang kali ini akan kembali memberikan kunci jawaban buku paket bahasa Indonesia kelas 12 Semester untuk halaman 140 sampai halaman 144 (kurtilas). Kumpulan jawaban yang ada dibawah merupakan jawaban dari soal-soal yang ada pada buku bse Indonesia halaman 140-144. Silahkan kalian lihat kunci jawaban berikut.

Jawaban Buku Paket Bahasa Indonesia Kelas 12 Halaman 140-144 (Semester 2)

Kunci Jawaban Halaman 140-142

No. Kutipan dari Novel Laskar Pelangi Gaya Bahasa
1. Ibu Muslimah yang beberapa menit lalu sembap, gelisah, dan coreng moreng, kini menjelma menjadi sekuntum crinum gigantium. Sebab tiba-tiba ia mekar sumringah dan posturnya yang jangkung persis tangkai bunga itu. Kerudungnya juga berwarna bunga crinum, demikian pula bau bajunya, persis crinum yang mirip bau vanili (LP, 2007:9). Metafora
2. Kulihat lagi pria cemara angin itu (LP, 2007:13). Metonimia
3. Ketika aku menyusul Lintang ke dalam kelas, ia menyalamiku dengan kuat seperti pegangan calon mertua yang menerima pinangan (LP, 2007:12). Simile
4. Para mayoret cantik, bertubuh ramping tinggi, dengan senyum khas yang dijaga keanggunannya, meliuk-liuk laksana burung merak yang sedang memamerkan ekornya (LP, 2007:236). Simile
5. Betapa susahnya menjejalkan ilmu ke dalam kepala alumuniumnya (LP, 2007:68). Metonimia
6. Dalam hatiku, jika berani macam-macam pastilah jemarinya seperti patukan burung bangau menusuk kedua bola mataku dengan gerakan kuntau yang tak terlihat (LP, 2007:204). Metafora
7. Si rapi jali ini adalah maskot kelas kami (LP, 2007:74). Metonimia
8. Di bangku itu ia seumpama balita yang dinaikkan ke atas tank, girang tak alang kepalang, tak mau turun lagi (LP, 2007:10). Simile
9. Lintang adalah mercu suar. Ia bintang petunjuk bagi pelaut di samudera (LP, 2007:431). Metonimia
10. Suaranya berat selayaknya orang yang tertekan batinnya (LP, 2007:6). Simile
11. Setiap katanya adalah beban berat puluhan kilo yang ia seret satu per satu (LP, 2007:353). Metafora
12. Pak Harfah menceritakan semua itu dengan semangat perang Badar sekaligus setenang embusan angin pagi (LP, 2007:23). Metonomia
13. Kotak kapur dikeluarkan melalui sebuah lubang persegi empat seperti kandang burung merpati (LP, 2007:203). Simile
14. Kami seperti sekawanan tikus yang paceklik di lumbung padi (LP, 2007:39). Simile
15. Sejak seminggu yang lalu aku telah menjadi sekuntum daffodil yang gelisah (LP, 2007:249). Metafora
16. Rupanya si kuku cantik sembrono (LP, 2007:208). Metonomia
17. Di tengah pusaran itu kami bertempur habishabisan dalam sebuah ritual liar Afrika yang kami tarikan seperti binantang buas yang terluka (LP, 2007:245). Simile
18. Surat ini untukmu, rambut ikal (LP, 2007:280). Metonomia
19. Aku kebanjiran salam dari sepupu-sepupuku untuk disampaikan pada laki-laki muda flamboyan ini (LP, 2007:75). Metafora
20. Dunia baginya hitam putih dan hidup adalah sekeping jembatan papan lurus yang harus dititi (LP, 2007:68). Metafora

Kunci Jawaban Halaman 142-143
No. Kutipan dari Novel Laskar Pelangi Padanan Kata
1. Hasil akhirnya adalah sebuah drama seru pertarungan massal antara manusia melawan binatang dalam alam Afrika yang liar, sebuah karya yang memukau, master piece Mahar (LP, 2007:229). ‘karya
kebanggaan’
2. Aku memiliki minat besar pada seni, akan membuat sebuah performing art bersama para sahabat karib (LP, 2007:64). ‘seni pertunjukkan’
3. Bahkan para kuli panggul yang memikul karung jengkol tiba-tiba bergerak penuh wibawa, santun, lembut, dan berseni, seolah mereka sedang memperagakan busana Armani yang sangat mahal di atas catwalk (LP, 2007:212). ‘pentas peraga’
4. Ia tidak punya sense of fashion sama sekali (LP, 2007:67). ‘kepekaan busana’
5. Sebagai Mollen Bas beliau sanggup mengendalikan shift ribuan karyawan, memperbaiki kerusakan kapal keruk yang tenaga-tenaga ahli asing sendiri sudah menyerah, dan mengendalikan aset produksi miliaran dolar (LP, 2007:47). ‘penggeseran’
6. Ia tampil laksana para event organizer atau para seniman, atau mereka yang menyangka dirinya seniman (LP, 2007:229). ‘penyelenggara acara’
7. Jika makan, orang urban ini tidak mengenal appetizer sebagai perangsang selera, tak mengenal main course, ataupun dessert (LP, 2007:53). ‘pembangkit selera’, ‘makanan utama’, ‘pencuci mulut’
8. Wilayah ini merupakan blank spot untuk frekuensi walky talky sehingga suara “kemerosok” yang sedikit menghibur dari alat itu sekarang mati dan tempat ini segera menjadi mencekam (LP, 2007:326). ‘radio dua arah’
9. Seorang penyanyi pop yang melakukan konser khusus untuk para ibu single parent (LP, 2007:134). ‘orang tua tunggal’
10. Mereka semuanya seolah bergerak seperti dalam slow motion, demikian indah, demikian anggun (LP, 2007:212). ‘gerak lambat’


Kunci Jawaban Halaman 144-145
No. Kata Sapaan Orang yang
Dituju
Contoh dalam Kalimat
1. Ayah/Abi/Abah ‘orang tua laki-laki’ Ayah pergi ke sawah tadi pagi.
2. Ibu/Umi/Ambu ‘orang tua perempuan’ Ibu sedang menonton sinetron.
3. Paman ‘adik laki-laki dari ayah/ibu’ Paman bekerja sebagai sopir bus.
4. Bibi ‘adik perempuan dari ayah/ibu’ Bibi sering datang ke rumahku.
5. Kakek/Opa ‘orang tua laki-laki dari ayah/ibu’ Kakek tinggal di Kota Padang.
6. Nenek/Oma ‘orang tua perempuan dari ayah/ibu’ Nenek selalu hadir di hari ulang tahunku.
7. Om ‘kakak/adik laki-laki dari ayah/ibu’ Om Budi gemar berolah raga
8. Tante ‘kakak/adik perempuan dari ayah/ibu’ Tante Irma bekerja sebagai penata busana.
9. Mas/Aa ‘kakak laki-laki’ Mas Sugeng datang terlambat.
10. Mba/Teteh ‘kakak perempuan’ Mba Mawar jatuh sakit.

Jawaban Buku Paket Bahasa Indonesia Kelas 12 Halaman 127-137 (Semester 2)

Kali ini saya akan memberikan jawaban buku paket Indonesia kelas 12 semester 2 kurtilas dari halaman 127 sampai halaman 137. Disini kita akan memberikan jawaban secara padat dan jelasa tanpa banyak basa-basi mengenai hal yang yang tidak penting. Jawaban ini kita dapat dari soal buku paket bahasa indonesia yang ada pada halaman 127 hingga 137.

Jawaban Buku Paket Bahasa Indonesia Kelas 12 Halaman 127-137 (Semester 2)

Kunci Jawaban Halaman 127-128

  1. Mendobrak kemiskinan melalui pendidikan menjadi cita-cita tokoh yang dibangun pengarang dalam novelnya. Pendidikan itu sangat penting, sebab akan menaikkan derajat seseorang, meskipun dengan segala keterbatasan. Hal ini dapat terlihat dari kutipan nomor 3) Ayahnya telah melepaskan belut licin itu, dan anaknya baru saja meloncati nasib, merebut pendidikan (Laskar Pelangi, 2007:10), dan nomor 4) Agaknya selama turun-temurun keluarga laki-laki cemara angin itu tak mampu terangkat dari endemik kemiskinan komunitas Melayu yang menjadi nelayan. Tahun ini beliau menginginkan perubahan dan ia memutuskan anak laki-laki tertuanya, Lintang, tak akan menjadi seperti dirinya. Lintang akan duduk di samping pria kecil berambut ikal yaitu aku, dan ia akan sekolah di sini lalu pulang pergi setiap hari naik sepeda (Laskar Pelangi, 2007:11).
  2. Jangan mudah menyerah oleh keadaan (jangan putus asa). Keadaan boleh saja serba kekurangan, namun kekurangan janganlah menjadi alasan untuk tidak berusaha. Justru jadikanlah kekurangan itu sebagai motivasi untuk bisa menutupinya. Hal ini dapat terlihat dari kutipan nomor 1)  Tahun lalu SD Muhammadiyah hanya mendapatkan sebelas siswa, dan tahun ini Pak Harfan pesimis dapat memenuhi target sepuluh. Kutipan nomor 2)  “Terimalah Harun, Pak, karena SLB hanya ada di Pulau Bangka, dan kami tak punya biaya untuk menyekolahkannya ke sana.
  3. Hidup ini dapat kita lalui dengan bahagia apabila kita semangat dalam menjalankan kewajiban kita, dan sabar dalam menghadapi cobaan. Hal ini dapat terlihat dari kutipan nomor nomor 6) Kami kekurangan guru dan sebagian besar siswa SD Muhammadiyah ke sekolah memakai sandal. Kami bahkan tak punya seragam. Kami juga tak punya kotak P3K. Kutipan nomor 7) Pak Harfan menceritakan semua itu dengan semangat perang Badar sekaligus setenang embusan angin pagi.


Kunci Jawaban Halaman 129-131

No. Penokohan Nama Tokoh Kutipan Pendukung
1. Anak lelaki yang menunjukkan minat besar untuk bersekolah-karena harus menempuh jarak 80 kilometer setiap hari agar bisa bersekolah. Ia adalah seorang anak yang genius dan menjadi teman sebangku Ikal Ia memiliki citacita menjadi ahli matematika. Ayahnya bekerja sebagai nelayan miskin dan harus menanggung 14 jiwa anggota keluarganya. Lintang
  1. Nelayan, biarkan jalan kerikil batu merah empat puluh kilometer mematahkan semangatnya (Laskar Pelangi, 2007:13).
  2. Dapat dikatakan tak jarang Lintang mempertaruhkan nyawa semi menempuh pendidikan, namun tak sehari pun ia pernah membolos. Delapan puluh kilo meter pulang pergi ditempuhnya dengan sepeda setiap hari. Tak pernah mengeluh. (Hirata, 2008: 90) 
  3. Anak pengumpul kerang ini pintar sekali. Matanya menyala-nyala memancarkan intelegensi, keingintahuan menguasai dirinya seperti orang kesurupan. Jarinya tak pernah berhenti mengacung tanda ia bisa menjawab. Kalau melipat dia paling cepat, kalau membaca dia paling hebat. (Hirata, 2008: 105-106)
2. Anak lelaki bertubuh
kurus dan berminat
besar pada seni.
Mahar
  1. ….Mahar memulai intro lagunya dengan memainkan melodi ukulele yang mendayu-dayu, ukulele itu dipeluknya dengan sendu, matanya terpejam, dan wajahnya syahdu penuh kesedihan yang mengharu biru, pias menahankan rasa. (Hirata, 2008: 136) 
  2. Mahar memiliki hampir setiap aspek kecerdasan seni yang tersimpan seperti persediaan amunisi kretivitas dalam lokus-lokus kepalanya. (Hirata, 2008: 139)
3. Anak lelaki keturunan
Tionghoa yang menganggap Mahar adalah guru baginya.
A Kiong
  1. Tapi jika melihat A Kiong…wajahnya seperti baru keluar dari bengkel ketok magic, alias menyerupai frankenstein. Mukanya lebar dan berbentuk kotak, rambutnya serupa landak…(hirata 53-54)
  2. Ia sangat naif dan tidak perduli seperti jalak kerbau…. Namun, meskipun wajahnya horor, hatinya baik luar biasa. Ia penolong dan ramah, kecuali pada Sahara. (Hirata, 2008: 68-69)
4. Anak lelaki ini digambarkan sebagai tokoh “aku” dalam cerita. Ia berminat pada sastra dan selalu mendapat peringkat kedua setelah Lintang. Ikal
  1. Aku dan Lintang sebangku karena kami sama-sama berambut ikal. (Hirata, 2008: 13) 
  2. Sejak kecil aku tertarik untuk menjadi pengamat kehidupan dan sekarang aku menemukan kenyataan yang memesona dalam sosiologi lingkungan kami yang ironis. (Hirata, 2008: 84) 
  3. …..pesona yang memabukkan dan menyadarkan aku bahwa aku telah jatuh cinta. (Hirata, 2008: 211)
5. Sang ketua kelas sepanjang generasi sekolah Laskar
Pelangi yang menderita rabun jauh.
Kucai
  1. …….ternyata lemot bukan main, namanya kucai. Kucai sedikik tak beruntung. Kekurangan gizi yang parah ketika kecil mungkin menyebabkan ia menderita miopia alias rabun jauh…….(Hirata : 54)
  2. Sebaliknya, ia memiliki kepribadian populis, oportunis, bermulut besar, banyak teori, dan sok tahu. (Hirata, 2008: 69)
6. Seorang anak perempuan tomboi yang berasal dari keluarga kaya, serta
peserta terakhir Laskar Pelangi.
Flo
  1. Setiap hari beliah berusaha memperempuankan Flo antara lain dengan memaksanya kursus piano. (Hirata, 2008: 47) 
  2. Bapak Flo adalah orang hebat,…..Ia adalah salah satu segelintir orang Melayu asli Belitong yang berhak tinggal di Gedong.(Hirata : 39-40)
7. Anak lelaki tampan yang pintar dan baik hati. Ia sangat mencintai ibunya. Trapani
  1. Si rapi jali ini adalah maskot kelas kami. Seorang perfeksionis berwajah seindah rembulan…Meskipun rumahnya dekat dengan sekolah tapi sampai kelas tiga ia masih diantar jemput ibunya. Ibu adalah pusat gravitasi hidupnya. Trapani agak pendiam, otaknya lumayan, dan selalu menduduki peringkat ketiga. (Hirata, 2008: 74-75)
  2. Pada saat itu rupanya Trapani telah mengambil keputusan lain. Ia tak datang ke dermaga karena ia tak mampu meninggalkan ibunya. (hirata : 360)
8. Anak lelaki yang memiliki
keterbelakangan mental.
Harun 
  1. Harun adalah seorang pria santun, pendiam, dan murah senyum. Ia juga merupakan teman yang menyenangkan. (Hirata, 2008: 76)
  2. Pria tersebut adalah Harun, pria jenaka sahabat kami semua, yang sudah berusia lima belas tahun dan agak terbelakang mentalnya. (Hirata : 14)
9. Satu-satunya tokoh perempuan dalam kelompok
ini-sebelum Flo bergabung. Ia adalah gadis yang keras kepala. Ia digambarkan sebagai gadis yang pintar dan ramah.
Sahara
  1. Lalu ada Sahara, satu-satunya hawa di kelas kami….sifatnya yang utama: penuh perhatian dan kepala batu……Sahara sangat tempramental, tapi ia pintar……Sifat lain Sahara yang amat menonjol adalah kejujurannya yang luar biasa dan benar-benar menghargai kebenaran. (Hirata, 2008: 75)
  2. N. A. Sahara Aulia Fadhillah binti K.A. Muslim Ramdhani, Gadi skecil berkerudung itu memang keras kepala luar biasa. (Hirata : 19)
10. Tokoh lain yang digambarkan sebagai anak nelayan yang ceria. Syahdan
  1. Lalu Syahdan pun, yang memang berpembawaan ceria, kali ini terlihat sangat gembira. (Hirata, 2008: 67) 
  2. Syahdan selalu riang menerima tugas apa pun, termasuk menyiram bunga, asalkan dirinya dapat menghindarkan diri dari pelajaran di kelas. (Hirata, 2008: 197) 
11. Ia selalu menjaga citranya sebagai lelaki jantan. Borek
  1. Aku paham apa yang terjadi. Samson malu mengakui bahwa ia bersembunyi di bawah ketiak Syahdan. Ia tak ingin citranya sebagai proa macho hancur karena ketakutan nonton sebuah film (Hirata : 314)
  2. Sejak saat itu borek tidak tertarik lagi dengan hal lain dalam hidup ini selain ssesuatu yang berhubungan dengan upaya membesarkan ototnya. Karena latihan keras ia berhasil mendapat julukan Samson. (Hirata : 61)


Kunci Jawaban Halaman 132-133
No. Sudut Pandang Kutipan dari Novel Laskar Pelangi
1. Sudut pandang orang pertama
  1. Dalam perjalanan pulang aku dengan sengaja melanggar perjanjian. Setelah kuburan Tionghoa, aku tak meminta Syahdan menggantikanku. (Laskar Pelangi, 2007:213).
  2. Sedangkan aku dan agaknya anak-anak yang lain merasa amat pedih: pedih pada orang tua kami yang tak mampu, pedih menyaksikan detik-detik terakhir sebuah sebuah sekolah tua yang tutup justru pada hari pertama kami ingin sekolah, dan pedih pada niat kuat kami untuk belajar tapi tinggal selangkah lagi harus terhenti hanya karena kekurangan satu murid.(Laskar Pelangi, 2007:5-7)
  3. Aku dan Lintang sebangku karena kami sama-sama berambut ikal. Trapani duduk dengan Mahar karena mereka berdua paling tampan.(Laskar Pelangi, 2007:13-14)
  4. N.A. Muslimah Hafsari Hamid binti K.A. Abdul Hamid, atau kami memanggilnya Bu Mus, hanya memiliki selembar ijazah SKP (Sekolah Kepandaian Putri).(Laskar Pelangi, 2007:29-30).
  5. Tekad itu memberinya kesulitan hidup tak terkira, karena kami kekurangan guru-lagi pula siapa yang rela diupah beras 15 kilo setiap bulan?(Laskar Pelangi, 2007:29-30). Tak susah melukiskan sekolah kami, karena sekolah kami adalah salah satu dari ratusan atau mungkin ribuan sekolah miskin di seantero negeri ini yang jika disenggol sedikit saja oleh kambing yang senewen, bisa rubuh berantakan.(Laskar Pelangi, 2007:17-18)
2. Sudut pandang orang ketiga
  1. Ia memperlihatkan bakat kalkulus yang amat besar dan keahliannya tidak hanya sebatas menghitung guna menemukan solusi, tetapi ia memahami filosofi operasi-operasi matematika dalam hubungannya dengan aplikasi seperti yang dipelajari para mahasiswa tingkat lanjut dalam subjek metodolgi riset (Laskar Pelangi, 2007:119).
  2. Di punggungnya tergantung sebuah tabung alumunium besar dengan slang yang menjalar ke sana ke mari. Ia akan berangkat ke bulan.(Laskar Pelangi, 2007:17-18). 
  3. Feodalisme di Belitong adalah sesuatu yang unik, karena ia merupakan konsekuensi dari adanya budaya korporasi, bukan karena tradisi paternalistik dari silsilah, subkultur, atau priviliese yang dianugerahkan.(Laskar Pelangi, 2007:41-43) 
  4. Ia terisolasi tembok tinggi berkeliling dengan satu akses keluar masuk seperti konsep cul de sac dalam konsep pemukiman modern.(Laskar Pelangi, 2007:41-43).
  5. Lagi pula lebih baik kutitipkan dia di sekolah ini daripada di rumah ia hanya mengejar-ngejar anak-anak ayamku….” (Laskar Pelangi, 2007:7-8).
  6. Maka diam-diam dia telah mempersiapkan sebuah pidato pembubaran sekolah di depan para orang tua murid pada kesempatan pagi ini.(Laskar Pelangi, 2007:5-7)

Kunci Jawaban Halaman 135-136
No. Struktur Kalimat
1. Abstrak Pagi itu, waktu aku masih kecil, aku duduk di bangku panjang di depan sebuah kelas. Sebatang pohon filicium tua yang rindang meneduhiku. Ayahku duduk di sampingku memeluk pundakku dengan kedua lengannya dan tersenyum mengangguk-angguk pada setiap orang tua dan anak-anaknya yang duduk berderet-deret di bangku panjang lain di depan kami. Hari itu ada hari yang agak penting: hari pertama masuk SD (Laskar Pelangi, 2007:1).
2. Orientasi Tahun lalu SD Muhammadiyah hanya mendapatkan sebelas siswa, dan tahun ini Pak Harfan pesimis dapat memenuhi target sepuluh. Maka diam-diam dia telah mempersiapkan sebuah pidato pembubaran sekolah di depan para orang tua murid pada kesempatan pagi ini. Kenyataan bahwa mereka hanya memerlukan satu siswa lagi untuk memenuhi target itu menyebabkan pidato ini akan menjadi sesuatu yang menyakitkan hati. (Laskar Pelangi, 2007:5-7)

…………….

Harun telah menyelamatkan kami dan kami pun bersorak. Sahara berdiri tegak merapikan lipatan jilbabnya dan meyandang tasnya dengan gagah, ia tak mau duduk lagi. Bu Mus tersipu. Air mata guru muda ini surut dan ia menyeka keringat di wajahnya yang belepotan karena bercampur dengan bedak tepung beras. (Laskar Pelangi, 2007:7-8)

3. Komplikasi Mendengar keputusan itu Lintang merontak-ronta ingin segera masuk kelas. Ayahnya berusaha keras menenangnenangkannya, tapi ia memberontak, menepis pegangan ayahnya, melonjak, dan menghambur ke dalam kelas mencari bangku kosongnya sendiri. Di bangku itu ia seumpama balita yang dinaikkan ke atas tank, girang tak alang kepalang, tak mau turun lagi. Ayahnya telah melepaskan belut yang licin itu, dan anaknya baru saja meloncati nasib, merebut pendidikan.(Laskar Pelangi, 2007:10)

………………….

Umumnya Bu Mus mengelompokkan tempat duduk kami berdasarkan kemiripan. Aku dan Lintang sebangku karena kami sama-sama berambut ikal. Trapani duduk dengan Mahar karena mereka berdua paling tampan. Penampilan mereka seperti para pelantun irama semenanjung idola orang Melayu pedalaman. Trapani tak tertarik dengan kelas, ia mencuricuri pandang ke jendela, melirik kepala ibunya yang muncul sekali-sekali di antara kepala orang tua lainnya.

Tapi Borek dan Kucai didudukkan berdua bukan karena mereka mirip, tapi karena sama-sama susah diatur. Baru beberapa saat di kelas, Borek sudah mencoreng muka Kucai dengan penghapus papan tulis. Tingkah ini diikuti Sahara yang sengaja menumpahkan air minum A Kiong sehingga anak Hokian itu menangis sejadi-jadinya seperti orang ketakutan dipeluk setan. N.A. Sahara Aulia Fadillah binti K.A. Muslim Ramdhani Fadillah, gadis kecil berkerudung itu, memang keras kepala luar biasa. Kejadian ini menandai perseteruan mereka yang akan berlangsung akut bertahun-tahun. Tangisan A Kiong nyaris merusak acara perkenalan yang menyenangkan pagi ini.
(Laskar Pelangi, 2007:13-14)

4. Evaluasi Kami kekurangan guru dan sebagian besar siswa SD Muhammadiyah ke sekolah memakai sandal. Kami bahkan tak punya seragam. Kami juga tak punya kotak P3K. Jika kami sakit, sakit apa pun: diare, bengkak, batuk, flu, atau gatal-gatal, maka guru kami akan memberikan sebuah pil berwarna putih, berukuran besar bulat seperti kancing jas hujan, yang rasanya sangat pahit. Jika diminum kita bisa merasa kenyang. Pada pil itu ada tulisan besar APC. Itulah pil APC yang legendaris di kalangan rakyat pinggiran Belitong. Obat ajaib yang bisa menyembuhkan segala rupa penyakit. (Laskar Pelangi, 2007:17-18)
5. Resolusi Pak Harfan menceritakan semua itu dengan semangat perang Badar sekaligus setenang embusan angin pagi. Kami terpesona pada setiap pilihan kata dan gerak lakunya yang memikat. Ada semacam pengaruh yang lembut dan baik terpancar darinya. Ia mengesankan sebagai pria yang kenyang akan pahit getir perjuangan dan kesusahan hidup, berpengetahuan seluas samudra, bijak, berani mengambil risiko, dan menikmati daya tarik dalam mencari-cari bagaimana cara menjelaskan sesuatu agar setiap orang mengerti. (Laskar Pelangi, 2007:23) 14)

Ketika mengajukan pertanyaan beliau berlari-lari kecil mendekati kami, menatap kami penuh arti dengan pandangan matanya yang teduh seolah kami adalah anak-anak Melayu yang paling berharga. Lalu membisikkan sesuatu di telinga kami, menyitir dengan lancar ayat-ayat suci, menantang pengetahuan kami, berpantun, membelai hati kami dengan wawasan ilmu, lalu diam, diam berpikir seperti kekasih merindu, indah sekali. (Laskar Pelangi, 2007:23-24)

6. Koda Beliau menorehkan benang merah kebenaran hidup yang sederhana melalui kata-katanya yang ringan namun bertenaga seumpama titik-titik air hujan. Beliau mengobarkan semangat kami untuk belajar dan membuat kami tercengang dengan petuahnya tentang keberanian pantang menyerah melawan kesulitan apa pun. Pak Harfan memberi kami pelajaran pertama tentang keteguhan pendirian, tentang kerukunan, tentang keinginan kuat untuk mencapai cita-cita. Beliau meyakinkan kami bahwa hidup bisa demikian bahagia dalam keterbatasan jika dimaknai dengan keikhlasan berkorban untuk sesama. Lalu beliau menyampaikan sebuah prinsip yang diam-diam menyelinap jauh ke dalam dadaku serta memberi arah bagiku hingga dewasa, yaitu bahwa hiduplah untuk memberi sebanyak-banyaknya. (Laskar Pelangi, 2007:23-24)

Kunci Jawaban Halaman 137-138
No. Kutipan Idiom Makna Idiom
1. Senyum Bu Mus adalah senyum getir yang dipaksakan karena tampak jelas beliau sedang cemas (LP, 2007:2). ‘senyum yang lahir dari rasa hati yang kecewa’
2. Ia juga diperhatikan ibunya layaknya anak emas. Mungkin karena ia satusatunya laki-laki di antara lima saudara perempuan lainnya (LP, 2007:74). ‘orang yang paling disayangi’
3. Sebagian yang lain diam terpaku, mulutnya ternganga, ia diselubungi kabut dengan tatapan mata yang kosong dan jauh (LP, 2007:104). ‘tidak bisa berkata apa-apa’
4. Guru-guru yang sederhana ini berada dalam situasi genting karena Pengawas Sekolah dari Depdikbud Sumsel telah memperingatkan bahwa jika SD Muhammadiyah hanya mendapat murid baru kurang dari sepuluh orang, maka sekolah paling tua di Belitong ini harus ditutup (LP, 2007:4). ‘keadaan yang menegangkan atau berbahaya’
5. Yang berhasil dibawa pulang hanya tubuh yang remuk redam…. (LP, 2007:264). ‘hancur sama sekali’
6. Ketika beliau angkat bicara, tak dinyana, meluncurlah mutiara-mutiara nan puitis sebagai prolog penerimaan selamat datang penuh atmosfer sukacita di sekolahnya yang sederhana (LP, 2007, 21—22). ‘mulai bicara’
7. Intonasinya lembut membelai-belai kalbu dan Mahar memaku hati kami dalam rasa pukau menyaksikannya menyanyi sambil menitikkan air mata (LP, 2007:137). ‘menciptakan rasa yang mendalam dalam hati’
8. Tak mengapa tujuan tak tercapai asal tak jatuh nama dalam debat kusir (LP, 2007:264). ‘debat yang tidak disertai alasan yang masuk akal’
9. Kami menanti liku demi liku cerita dalam detikdetik menegangkan dengan dada berkobar-kobar ingin membela perjuangan para penegak Islam (LP, 2007:23). ‘semangat yang menyala-nyala dengan hebatnya’
10. Sifatnya yang utama: penuh perhatian dan kepala batu. Maka, tak ada yang berani bikin gara-gara dengannya karena ia tak pernah segan mencakar (LP, 2007:75). ‘tidak mau mengikuti nasihat orang lain’

Jawaban Buku Paket Bahasa Indonesia Kelas 12 Halaman 98-113 (Semester 2)

Kali ini kita akan kembali memberikan jawaban buku paket bahasa Indonesia kelas 12 kurikulum 2013 (kurtilas) semester 2. Jawaban yang akan kita berikan kali ini mulai dari halam 98 hingga halaman 113. Adapun materi ini adalah mengenai teks cerita fiksi dalam novel. Baiklah langsung saja kita bahas soal buku paket bse Indonesia berikut.


Kunci Jawaban Halaman 98-99
a. Kalid adalah seorang yang berperawakan keras dengan pori wajah yang agak kasar dan rahang yang menyembul.
b. Khalid memiliki kumis, cambang, dan jenggot yang panjang.
c. Khalid berambut gondrong dan awut-awutan dan hampir seluruh mukanya tertutup bulu.
d. Khalid memiliki tatapan mata yang sangat tajam.
e. Khalid memiliki ekspresi yang dingin.
f. Khlaid adalah lelaki pemberani dan misterius.
g. Kalid sebagai seorang lelaki yang tidak pernah menyerah menghadapi prahara kehidupan. Seorang sarjana hukum yang akhirnya menjadi korban ketidakadilan. Kalid sebagai lelaki yang tak pernah ‘mati’ hingga akhir cerita.

Kunci Jawaban Halaman 110

No. Pernyataan B S TT
1. Hutan-hutan di pinggir kampung banyak yang terbakar.
2. Kampung di sana menjadi panas akibat hutan yang terbakar.
3. Kampung tersebut berada jauh dari sungai.
4. Mesin penebang kayu hanya terdengar di siang hari.
5. Setelah ditebang, kayu-kayu dirajang berbentuk papan maupun batangan segi empat.
6. Orang-orang yang bekerja menebang kayu itu bekerja untuk seorang pengusaha yang dilindungi aparat.
7. Untuk mengeluarkan kayu yang sudah dipotong dari hutan menggunakan jasa kerbau.
8. Kerbau-kerbau membawa kayu tersebut hingga ke pinggir sungai.
9. Setelah sampai dipinggir sungai, kemudian kayu tersebut dialirkan begitu saja ke arah hilir.
10. Banyak orang kampung yang bekerja untuk perusahaan itu.

Kunci Jawaban Halaman 111-112
No. Kutipan Nyanyi Sunyi dari Indragiri Gaya Bahasa
1. Hampir setiap hari pula, dia selalu mendengar suara mesin penebang kayu meraung-raung tidak siang tidak malam dan beberapa hari kemudian kayu-kayu, yang sudah dirajang dengan rapi baik berbentuk papan maupun batangan segi empat dikeluarkan oleh serombongan kerbau dari hutan (NSdI, 2004:40). Antitesis adalah majas yang membandingkan dua hal yang berlawanan.
2. Semuanya seperti musim kering; kemarau datang dan angin gersang menusuk-nusuk. Semuanya seperti musim basah; hujan dan badai adalah nyanyian dalam sedih dan ngilu. Semuanya seperti perih, ketika langit tak menyisakan cerita apa-apa. Semuanya menjadi sepi… (NSdI, 2004:1). Repetisi
Pengulangan kata-kata tertentu
3. Angin senja yang hampir habis membuat rambutnya berkibar-kibar, dan sinar matahari yang hampir tenggelam membuat rambutnya tampak hanya bayangan, seperti siluet (NSdI, 2004:100). Metafora mengungkapkan ungkapan secara tidak langsung berupa perbandingan analogis.
4. Hampir setiap hari, dalam panas yang memanggang kampung itu, hal seperti itu terjadi; raungan gergaji sepanjang hari, suara gedblar kayu tumbang, kayu yang ditarik kerbau keluar dari hutan menuju pinggir sungai, dan rombongan aliran kayu ke arah hilir (NSdI, 2004:40). Hiperbola gaya bahasa yang menyatakan sesuatu secara berlebihan.
5. Tetapi aku sadar sesadar-sadarnya, bahwa tatapan matanya yang sangat tajam ketika kami pertama kali bertemu-bukan bertemu, aku yang memandangnya dari kejauhan-menjelang senja beberapa waktu sebelum huru hara itu, telah mengubah seluruh tatanan pemikiranku selama ini (NSdI, 2004:60). Sinestesia adalah metafora berupa ungkapan yang berhubungan dengan suatu indera untuk dikenakan pada indera lain.
6. Aku diam menahan perih. Perlahan air mataku mengalir dan aku tak bisa terisak. Memang tak ada isak, yang ada dalam diriku adalah pedih, ngilu, dan nyeri (NSdI, 2004:21—22). Klimaks adalah melukiskan keadaan secara berurutan sampai pada puncaknya


Kunci Jawaban Halaman 112-113
  1. Alia, wanita itu, masih menangis tanpa suara, hanya isakan (NSdI, 2004:1).
  2. Dia senang memandang lelaki tu; melihat dari dekat wajahnya yang tidak terlalu halus-dengan pori-pori yang terlihat dan rahang yang menyembul (NSdI, 2004:4).
  3. Dan sebelum perusahaan itu datang, tak pernah ada banjir besar yang menghancurkan kampung kami setiap tahun (NSdI, 2004:7).
  4. Aku sakit hati dan selalu memendam perasaan ingin menghancurkannya suatu saat nanti kalau ketemu dia, atau siapapun orang dekatnya.(NSdI, 2004: 86).
  5. Kebencian yang berasal dari kekecewaan karena ketidakadilan: kepemilikan yang tercabut dan diambil dengan paksa. (NSdI, 2004:58)

Jawaban Buku Paket Bahasa Indonesia Halaman 87-93 kelas 12 (Semester 2)

Halo semua kali ini saya akan memberikan kunci jawaban buku paket bahasa Indonesia kelas 12 kurikulum 2013 (kurtilas) untuk semester 2. Disini kita akan memberikan jawaban untuk buku bse tersebut untuk halaman 87 sampai dengan halaman 93. Baiklah tanpa banyak basa-basi lagi silahkan saja kalian lihat kunci jawaban berikut.

jawaban buku paket indonesia kelas 12 semester 2
Kunci Jawaban Halaman 87
a. Persoalan dimulai pada April 1998, saat keadaan politik memburuk akibat jatuhnya harga rupiah. Keadaan tersebut menyebabkan harga getah karet dan kayu melambung tinggi.
b. PT Riau Maju Timber melakukan penebangan kayu hampir sampai perbatasan kampung sehingga mengakibatkan beberapa hutan di kampung sebelah sudah lenyap.
c. Panas terik sepanjang tahun mengakibatkan beras menjadi langka, pohon karet tak mengeluarkan getah karena tak tersiram air.
d. Penebangan hutan yang tidak terkontrol dan pembakaran yang dilakukan membuat bencana itu selalu datang.
e. Dampak penebangan hutan menyebakan banjir tiap tahun dan kemarau membakar dan mengeringkan sawah ladang. Hingga suatu ketika banjir bandang menerjang rumah dan menghanyutkan abah Kalid. Kematian seorang ayah semakin menyalakan api dendam yang tumbuh di dada Kalid. 
f. Kalid membakar base camp milik PT Riau Maju Timber yang menyebabkan masyarakat banyak menderita akibat eksplorasi hutan yang dilakukan oleh perusahaan tersebut. 
g. Khalid bersama teman-teman kemudian masuk penjara yang mungkin membuat umi tertekan batin karena anak satusatunya berurusan dengan masalah kriminal dan peristiwa tersebut mengakibatkan umi meninggal hanya beberapa hari sebelum khalid keluar dari penjara.
h. Khalid datang ke kantor Dinas Kehutanan di Rengat ketika libur kuliah dan mengatakan kepada mereka bahwa aktivitas PT Riau Maju Timber di kampung kami harus dihentikan. Aktivitas tersebut menyebabkan hutan habis dan banjir selalu datang menenggelamkan kampung.
i. Ketika hakim selesai membaca keputusan, kembali, mereka kalap dan mengatakan bahwa hukuman itu tidak adil untuk Kalid.
j. Khalid mulai memahami pedihnya menjadi orang miskin adalah bagaimana supaya kami semua di kampung diperhatikan; sekolah dibangun dengan layak, jalan dan jembatan dibuat dan orang-orang di kampung kami tidak bermental terbelakang seperti itu.

Kunci Jawaban Halaman 88-89
a. Keadaan politik yang memburuk menyebabkan harga rupiah yang anjlok, sehingga harga karet dan kayu melambung tinggi. Hal ini menyebabkan PT Riau Maju Timber “merampas” hutan masyarakat Rimbo Pematang.
b. Eksplorasi hutan yang berlebihan menyebabkan kekeringan di musim panas dan banjir di musim hujan.
c. PT Riau Maju Timber melakukan penebangan kayu hampir sampai perbatasan kampung sehingga mengakibatkan beberapa hutan di kampung sebelah sudah lenyap.
d. Panas terik sepanjang tahun mengakibatkan beras menjadi langka, pohon karet tak mengeluarkan getah karena tak tersiram air.
e. Penebangan hutan yang tidak terkontrol dan pembakaran yang dilakukan membuat bencana itu selalu datang.
f. Dampak penebangan hutan menyebakan banjir tiap tahun dan kemarau membakar dan mengeringkan sawah ladang. Hingga suatu ketika banjir bandang menerjang rumah dan menghanyutkan abah Kalid. Kematian seorang ayah semakin menyalakan api dendam yang tumbuh di dada Kalid. 
g. Kalid membakar base camp milik PT Riau Maju Timber yang menyebabkan masyarakat banyak menderita akibat eksplorasi hutan yang dilakukan oleh perusahaan tersebut. 
h. Khalid bersama teman-teman kemudian masuk penjara yang mungkin membuat umi tertekan batin karena anak satusatunya berurusan dengan masalah kriminal dan peristiwa tersebut mengakibatkan umi meninggal hanya beberapa hari sebelum khalid keluar dari penjara.
i. Khalid datang ke kantor Dinas Kehutanan di Rengat ketika libur kuliah dan mengatakan kepada mereka bahwa aktivitas PT Riau Maju Timber di kampung kami harus dihentikan. Aktivitas tersebut menyebabkan hutan habis dan banjir selalu datang menenggelamkan kampung.
Kunci Jawaban Halaman 93-94
(a) Bagian Awal
Guntingan koran itu masih ada di mejanya. Tidak semua koran menulis tentang peristiwa itu, hanya beberapa. Dan yang beberapa itulah yang membuatnya tersentak. Ada yang nyeri dalam dadanya, ada yang hampa dalam jiwanya. Benarkah berita itu? Tidakkah salah koran-koran itu menulis tentang hilangnya lelaki itu terbawa arus Sungai Indragiri yang menenggelamkan beberapa kampung di Indragiri? (NSdI, 2004:1).
(b) Bagian Tengah
Ketika kemudian aku mendengar berita itu: engkau hilang terseret arus sungai dan mayatmu tak ditemukan dalam sebuah banjir bandang yang melanda kampungmu, aku sudah kehabisan air mata, Kalid. Aku yakin dan percaya, seperti kejadian-kejadian sebelumnya, engkau selalu lolos dari apa yang diperkirakan orang. Entahlah, entah kapan lelaki sepertimu akan mati, atau engkau memang memiliki ilmu yang membuatmu tak mati, tak terdeteksi aparat, bisa membuat semua orang mencintaimu dan segala ilmu lainnya? (NSdI, 2004:97—98)
(c) Bagian Akhir
Aku tak yakin, meski aku mempercayainya: kamu bisa melakukan segalanya seperti yang engkau inginkan. Benarkah engaku telah mati? (NSdI: 2004:98)